Kurs Rupiah Terus Tertekan

Jum'at, 06 Maret 2015 - 10:21 WIB
Kurs Rupiah Terus Tertekan
Kurs Rupiah Terus Tertekan
A A A
JAKARTA - Meyakini pelemahan hanya bersifat sementara, pemerintah bersikap biasa atas terpuruknya nilai tukar rupiah yang kini berada di level terendah sejak Juli 1998. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah kemarin telah berada di level Rp13.022 per dolar AS.

Dibandingkan posisi awal tahun sebesar Rp12.474 per dolar AS, rupiah hingga kemarin telah melemah hingga 4,39%. Kendati demikian, BI menilairupiahmasihdalamkondisi baik dan pelemahan hanya bersifat sementara. Gubernur BI Agus DW Martowardojo memandang, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS disebabkan dinamika luar negeri, di mana hal yang sama juga dialami oleh mata uang negara lain.

“Pelemahan nilai tukar itu karena dinamika yang ada di luar negeri. Tetapi, secara umum rupiah dalam keadaan baik dan BI selalu ada di pasar untuk menjaga volatilitas rupiah,” kata Agus di Gedung BI, Jakarta, kemarin. Secara umum, kata Agus, kondisi perekonomian Indonesia dalam keadaan baik sehingga tidak perlu mengkhawatirkan anjloknya rupiah. Secara keseluruhan pelemahan rupiah belum menembus batas tahun lalu sebesar 10%.

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, volatilitas rupiah masih lebih baik. “Jadi, kita tidak perlu khawatir terhadap rupiah,” ujarnya. Pimpinan otoritas moneter Indonesia itu juga menambahkan, kondisi cadangan devisa saat ini senilai Rp114 miliar dolar masih bisa menutupi lebih dari enam bulan kewajiban impor atau pembayaran utang yang jatuh tempo.

Dia juga mengakui cukup banyak utang luar negeri korporasi atau pihak swasta yang belum terproteksi oleh lindung nilai (hedging ). “Secara umum utang luar negeri perusahaan kita yang belum lakukan hedging cukup banyak. Tapi, BI sudah mengeluarkan aturan agar perusahaan-perusahaan itu mengatur likuiditasnya berdasarkan jatuh waktu pembayarannya,” ungkapnya.

Sikap serupa sebelumnya juga ditunjukkan Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil. Menurut dia, kendati rupiah melemah, kondisi makroekonomi internal Indonesia saat ini masih baik, yang ditunjukkan oleh inflasi yang turun, arus masuk modal asing yang masih positif, dan imbal hasil surat utang negara yang turun.

“Yang penting kondisi ekonomi diperbaiki, tidak ada gunanya kita lakukan intervensi pasar. Kalau kita intervensi dan cadangan devisa habis sementara rupiah tidak bisa menguat, tidak ada gunanya, maka yang perlu diperbaiki adalah kondisi perekonomian kita,” katanya. Namun, menurut ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Eko Listiyanto, pelemahan nilai tukar rupiah justru berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Jika rupiah terus melemah, pertumbuhan ekonomi tahun ini diprediksi hanya sekitar 5,1%, jauh di bawah target pemerintah 5,7%. Menurut Eko, selain tekanan dari melemahnya nilai tukar rupiah, terus turunnya kinerja ekspor yang diikuti pula dengan turunnya impor menunjukkan bahwa output ekonomi lebih sedikit. Selain itu, defisit neraca perdagangan yang diikuti dengan kecilnya transaksi juga turut menekan pertumbuhan.

“Awal tahun saja rupiah sudah melemah, ekspor juga. Kalau terus berlanjut, tidak ada insentif (bagi pertumbuhan ekonomi),” ujar Eko. Sementara itu, ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mengatakan, pelemahan rupiah berimbas besar pada importir. Karena itu, importir diperkirakan kembali memborong dolar sehingga rupiah semakin tertekan. Ekonomi Indonesia masih cukup banyak bergantung terhadap impor.

“Importir yang khawatir rupiah akan terus terpuruk sudah beli dolar dari sekarang,” katanya. Di sisi lain, lanjut dia, pelemahan rupiah tidak berdampak banyak pada kinerja ekspor Indonesia sebab harga komoditas saat ini juga melemah. “Sehingga, kalau rupiahnya melemah, belum tentu ekspornya bisa bagus.

Indonesia ini banyak ekspor komoditas, sedangkan komoditas harganya sedang melemah,” tuturnya. David memperkirakan tren pelemahan rupiah masih akan berlanjut sepanjang semester pertama tahun ini. Ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral Amerika, The Fed, masih akan memengaruhi nilai tukar rupiah dan negara-negara lain hingga semester I/2015. Di dalam negeri pengumuman deflasi baru-baru ini juga ikut memengaruhi nilai tukar rupiah sebab deflasi menimbulkan ekspektasi BI akan menurunkan bunga acuannya. “Itu turut melemahkan rupiah,” ujarnya.

Kunthi fahmar sandy/Arsy ani s/Ant
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Menkeu Purbaya Tegaskan...
Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
14 menit yang lalu
Bunga Mulai 1,75%! BRI...
Bunga Mulai 1,75%! BRI KPR Hadirkan Solusi Paling Ringan untuk Miliki Rumah Impian
38 menit yang lalu
Danantara Bantah Isu...
Danantara Bantah Isu Pemilik Tabungan Rp3 Miliar Wajib Beli Patriot Bond
43 menit yang lalu
Pertamina Akselerasi...
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Melalui Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
59 menit yang lalu
IFG Life Beri Proteksi...
IFG Life Beri Proteksi 10 Ribu Pelari di Ajang Yellow Run 2026
1 jam yang lalu
Klarifikasi Purbaya...
Klarifikasi Purbaya soal Isu Mundur: Sebagian Informasinya Betul, Sebagian Salah
1 jam yang lalu
Infografis
Rupiah Jeblok ke Level...
Rupiah Jeblok ke Level Terendah Sejak Krisis 1998
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved