Kompensasi Inflasi Harus Jelas ‎jika BI Rate Turun

Minggu, 08 Maret 2015 - 13:16 WIB
Kompensasi Inflasi Harus...
Kompensasi Inflasi Harus Jelas ‎jika BI Rate Turun
A A A
JAKARTA - Pengamat ekonomi Yanuar Rizky menilai, pemerintahaan sekarang kurang mempunyai planning jangka pendek. Melainkan hanya berbicara jangka panjang seperti pembangunan infrastruktur dan lain-lain.

"Kalau kita ngomong inflasi itu dari arus barang, sekarang begini, secara politis pemerintah mengingkan BI Rate turun untuk menurunkan suku bunga kredit," ujarnya saat dihubungi, Sabtu (8/3/2015).

Jika misalnya pemerintah tidak bisa mengendalikan arus barang, maka kebijakannya kontraproduktif. Pasalnya, pemiliki dana tetap akan mengkompensasi inflasi sehingga membuat rupiah melemah namun sahamnnya naik.

"Itu juga orang akhirnya akan melihat. Kalau anda misalkan dikasih ‎bunga rupiah turun dari sisi deposan anda akan lari ke USD karena USD naik. Nah itu kan kontraksi, tidak menyelesaikan persoalan inflasi akhirnya," jelas dia.

Sementara, konsep uang beredar itu sebenarnya ekspektasi inflasi. "Jadi yang saya lihat itu tidak jelas arah pemerintah mau kemana," ucap Yanuar.

"Tidak bisa begitu, kan ini faktornya banyak. Jadi artinya ini harus di pikirkan secara serius. Kita harus punya kebijakan moneter yang memang fixs bauran-bauran kebijakan," imbuhnya.

Menurutnya, yang terjadi saat ini pemerintah menginginkan turunkan suku bunga kemudian BI juga menurunkan. Jika BI menurunkan suku bunga acuan tidak jadi masalah, asalkan harus ada kompensasi inflasi yang jelas, kemudian harus ada penekanan nilai tukar rupiah, serta harus ada strategi logistik. "Kan tidak bisa gitu saja. Tidak semudah JK dan Jokowi ngomong," sindir Yanuar.

Dia mengatakan, jika saat ini orang menurunkan deposite rate, kemudian BI Rate juga turun, serta bunga kredit turun apakah perbankan mau memberikan pinjaman kredit?. "Dan kalau BI Rate turun, bunga kredit turun emang bank mau ngasih kredit, NPL juga naik. Nah itu menunjukan kebijakannya serabutan tidak karuan‎," tandasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Terima Data Inflasi...
Terima Data Inflasi 2,84% dan Pertumbuhan Ekonomi 5,11%, Jokowi: Segar kalau Seperti Ini
Inflasi Bulan Maret...
Inflasi Bulan Maret 2025 Mencapai 1,65 Persen
Badan Pusat Statistik...
Badan Pusat Statistik : Inflasi 2021 Capai 1,87 Persen
Inflasi Mei Diperkirakan...
Inflasi Mei Diperkirakan Mencapai 0,31 Persen
Prediksi Inflasi September...
Prediksi Inflasi September 2022 Efek Kenaikan Harga BBM
Angka Inflasi Jawa Barat...
Angka Inflasi Jawa Barat Tertinggi
Berita Terkini
Kebut Program Motor...
Kebut Program Motor dan Kompor Listrik Tahun Depan, Bahlil Anggarkan Rp1,45 Triliun
2 jam yang lalu
Hasil Seleksi Pelatihan...
Hasil Seleksi Pelatihan Vokasi Batch 2 Diumumkan 18 Juni 2026, Begini Cara Aksesnya
3 jam yang lalu
Harga Tiket Whoosh Pakai...
Harga Tiket Whoosh Pakai Skema Dinamis Sambut Libur Sekolah Plus Long Weekend, Termurah Rp250 Ribu
4 jam yang lalu
Bahlil Antisipasi Ledakan...
Bahlil Antisipasi Ledakan Subsidi Energi Tahun Depan, Segini Hitungannya dalam RAPBN 2027
5 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Jaring Talenta Pelaut Muda Perkuat Distribusi Energi Nasional
5 jam yang lalu
Bahlil Jamin Harga BBM...
Bahlil Jamin Harga BBM Pertalite dan LPG 3 Kg Tidak Naik
6 jam yang lalu
Infografis
Angka Kemiskinan Indonesia...
Angka Kemiskinan Indonesia Turun, Ekonom Ragukan Data BPS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved