Sentimen Rupiah Diprediksi Bikin IHSG Sulit Rebound
Kamis, 12 Maret 2015 - 08:30 WIB
Sentimen Rupiah Diprediksi Bikin IHSG Sulit Rebound
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan sulit rebound karena sentimen dari melemahnya rupiah.
Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan, IHSG akan membentuk pola bearish separating lines lewati di bawah area middle bollinger band (MBB). MACD kembali turun dengan histogram negatif yang lebih rendah. RSI, Stochastic, dan William’s %R gagal bertahan dari penurunan.
"Dengan masih adanya sentiment pelemahan nilai tukar rupiah maka laju IHSG pun sulit untuk rebound," ujarnya di Jakarta, Kamis (12/3/2015).
Menurut dia, pelaku pasar pun lebih memilih untuk menunggu harga di bawah di tengah mulai masuknya tren penurunan IHSG. Dia melihat masih ada potensi pelemahan IHSG, namun diharapkan dapat terbatas.
Dia memperkirakan IHSG akan berada pada rentang support 5.385-5.400 dan resisten 5.425-5.445. Laju IHSG kemarin gagal bergerak menuju area target resisten 5.468-5.478, namun mampu bertahan di atas area target support 5.395-5.400.
Kemarin, sinyal teknikal yang mengindikasikan penguatan tampaknya gagal direalisasi seiring kuatnya aura negatif yang diiringi maraknya aksi jual, sehingga membuat IHSG jauh dari peluang pembalikan arah naik.
"Cenderung melemahnya laju bursa saham China setelah merespon pelemahan rilis data-data makroekonominya memberikan sentimen negatif bagi pergerakan bursa saham regional, tak terkecuali IHSG," ujarnya.
Apalagi diiringi dengan masih berlanjutnya pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap USD meskipun menunjukkan penguatan terhadap yen, euro, dan poundsterling.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD dianggap telah mengkhawatirkan karena hampir sebagian besar transaksi di internal Indonesia masih menggunakan USD, sehingga ketika laju USD mengalami kenaikan maka dapat mengganggu kinerja, terutama kinerja pada perusahaan yang banyak mengandalkan bahan baku impor.
Pelemahan IHSG kali ini banyak ditopang oleh turunnya saham-saham di sektor properti termasuk sub sektor konstruksi, industri dasar, aneka industri dan lainnya.
Bahkan sektor komoditas yang dianggap menikmati keuntungan dengan pelemahan nilai tukar rupiah pun tidak luput dari sasaran aksi jual. Penguatan mayoritas saham sehari sebelumnya dimanfaatkan pelaku pasar untuk profit taking.
Investor asing kembali melakukan nett sell dari net sell Rp484,96 miliar menjadi net sell Rp1,01 triliun.
Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan, IHSG akan membentuk pola bearish separating lines lewati di bawah area middle bollinger band (MBB). MACD kembali turun dengan histogram negatif yang lebih rendah. RSI, Stochastic, dan William’s %R gagal bertahan dari penurunan.
"Dengan masih adanya sentiment pelemahan nilai tukar rupiah maka laju IHSG pun sulit untuk rebound," ujarnya di Jakarta, Kamis (12/3/2015).
Menurut dia, pelaku pasar pun lebih memilih untuk menunggu harga di bawah di tengah mulai masuknya tren penurunan IHSG. Dia melihat masih ada potensi pelemahan IHSG, namun diharapkan dapat terbatas.
Dia memperkirakan IHSG akan berada pada rentang support 5.385-5.400 dan resisten 5.425-5.445. Laju IHSG kemarin gagal bergerak menuju area target resisten 5.468-5.478, namun mampu bertahan di atas area target support 5.395-5.400.
Kemarin, sinyal teknikal yang mengindikasikan penguatan tampaknya gagal direalisasi seiring kuatnya aura negatif yang diiringi maraknya aksi jual, sehingga membuat IHSG jauh dari peluang pembalikan arah naik.
"Cenderung melemahnya laju bursa saham China setelah merespon pelemahan rilis data-data makroekonominya memberikan sentimen negatif bagi pergerakan bursa saham regional, tak terkecuali IHSG," ujarnya.
Apalagi diiringi dengan masih berlanjutnya pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap USD meskipun menunjukkan penguatan terhadap yen, euro, dan poundsterling.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD dianggap telah mengkhawatirkan karena hampir sebagian besar transaksi di internal Indonesia masih menggunakan USD, sehingga ketika laju USD mengalami kenaikan maka dapat mengganggu kinerja, terutama kinerja pada perusahaan yang banyak mengandalkan bahan baku impor.
Pelemahan IHSG kali ini banyak ditopang oleh turunnya saham-saham di sektor properti termasuk sub sektor konstruksi, industri dasar, aneka industri dan lainnya.
Bahkan sektor komoditas yang dianggap menikmati keuntungan dengan pelemahan nilai tukar rupiah pun tidak luput dari sasaran aksi jual. Penguatan mayoritas saham sehari sebelumnya dimanfaatkan pelaku pasar untuk profit taking.
Investor asing kembali melakukan nett sell dari net sell Rp484,96 miliar menjadi net sell Rp1,01 triliun.
(rna)
Lihat Juga :