Koreksi Rupiah Belum Berdampak Signifikan ke KAEF

Jum'at, 13 Maret 2015 - 16:56 WIB
Koreksi Rupiah Belum...
Koreksi Rupiah Belum Berdampak Signifikan ke KAEF
A A A
JAKARTA - PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) menyatakan terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) cukup membebani perseroan karena 90% bahan baku diperoleh dari impor.

Direktur Riset dan Pengembangan Bisnis KAEF M Wahyuli Syafari mengatakan, sebagai perusahaan farmasi, perseroan masih mengandalkan bahan baku impor, dengan transaksi menggunakan mata uang USD.

"Bahan baku kami sebagian besar masih impor, jumlahnya sekitar 90%," kata dia kepada Sindonews di Jakarta, Jumat (13/3/2015).

Meski demikian, dia mengatakan, perseroan masih belum merasakan dampak yang signifikan dari menguatnya mata uang Negeri Paman Sam tersebut. Pasalnya, bahan baku produksi tersebut telah dibeli sejak tahun lalu.

"Naiknya sampai Rp13.000 kan baru dalam dua minggu ini, sedangkan kita sudah beli bahan baku sejak November 2014, di mana USD masih Rp12.500," paparnya.

Wahyuli menuturkan, dalam pembelian bahan baku farmasi memang telah direncanakan sejak jauh hari sebelum diproduksi. Harga yang telah sepakat dibeli saat November tahun lalu, tiba pada Januari dan Februari tahun ini.

"Tapi kita akan memperhitungkan pembelian bahan baku untuk enam bulan ke depan. Tahun ini, kita menggunakan nilai tukar sesuai ketetapan pemerintah dalam APBN, yaitu Rp12.500/USD," ujar dia.

Emiten farmasi plat merah tersebut juga memastikan tidak ada pabrik yang ditunda pembangunannya pada tahun ini. KAEF tetap akan membangun pabrik farmasi di Banjaran untuk memindahkan pabrik yang telah ada sebelumnya di Bandung.

"Kami belum berencana menunda proyek karena dolar AS, pabrik garam juga tetap dibangun karena masih menggunakan nilai tukar sebelumnya," pungkasnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kembali Berlayar di...
Kembali Berlayar di Kepulauan Seribu, Klinik Apung Disambut Positif
Luncurkan 2 Layanan...
Luncurkan 2 Layanan Baru, Kimia Farma Diagnostika Optimistis Raih Pendapatan Rp2,5 T
Layanan Vaksinasi Covis-19...
Layanan Vaksinasi Covis-19 Berbayar di Kimia Farma, Intip Jenis Vaksin dan Cara Pendaftarannya
Bangun Indonesia Sehat,...
Bangun Indonesia Sehat, Kimia Farma Diagnostika dan Pfizer Perkuat Vaksinasi Nasional
Menelusur Fakta Vaksinasi...
Menelusur Fakta Vaksinasi Bayar Sendiri di Kimia Farma Berujung Penundaan
Partai Gelora Kritik...
Partai Gelora Kritik Bos Kimia Farma Tolak Minta Maaf Kasus Antigen Bekas
Berita Terkini
Dukung Industri Kreatif,...
Dukung Industri Kreatif, Joshua Khubani Siapkan Investasi USD100 Juta
48 menit yang lalu
Jelajahi 197 Negara,...
Jelajahi 197 Negara, Peneliti Temukan Kesederhanaan Jadi Kunci Kebahagiaan
57 menit yang lalu
Pasar Keuangan Ambruk...
Pasar Keuangan Ambruk Lebih Dalam, Rupiah Diramal Tembus Rp19.000 Akhir Bulan Ini
1 jam yang lalu
BRIN Apresiasi Program...
BRIN Apresiasi Program Konservasi Astra Agro Dukung Target Biodiversitas
1 jam yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Mager di Rp2,73 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
2 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Program CID
3 jam yang lalu
Infografis
Curacao, Negara Terkecil...
Curacao, Negara Terkecil yang Lolos ke Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved