Risiko Distribusi Jadi Fokus Asuransi Umum

Selasa, 17 Maret 2015 - 12:05 WIB
Risiko Distribusi Jadi...
Risiko Distribusi Jadi Fokus Asuransi Umum
A A A
JAKARTA - Allianz Risk Barometer 2015 memprediksikan risiko asuransi terbesar yang akan mungkin terjadi diprediksi dari risiko gangguan usaha pada jaringan distribusi (supply chain).

Potensi muncul akibat risiko dari lingkungan perusahaan yang saling terhubung satu sama lain. CEO of Allianz Global Corporate & Specialty SE (AGCS) Chris Fischer Hir mengatakan, risiko gangguan usaha pada jaringan distribusi (supply chain) sebesar 46%. Risiko bencana alam dengan 30% serta risiko kebakaran dan ledakan dengan memperoleh 27%. “Risiko dari dunia maya dan risiko politik juga diperkirakan akan berkembang menjadi risiko besar. Dua risiko ini baru dikhawatirkan sebesar 17% dan 11% saat ini,” ungkap Chris di Jakarta kemarin.

Dia mengatakan, peningkatan saling ketergantungan antara industri dan proses bisnis menciptakan skenario gangguan usaha baru. “Sehingga dampak negatif dapat menyebabkan efek berkali lipat karena satu risiko dapat menyebabkan risiko lain,” imbuhnya. Chris memaparkan, studi dilakukan melalui survei kepada lebih dari 500 pengelola risiko (risk managers) ditambah dengan para ahli perasuransian di Allianz dan para pelaku bisnis global di 47 negara.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama PT Asuransi Allianz Utama Indonesia Wiyono Sutioso menambahkan, potensi bencana alam atau serangan dunia maya tidak hanya menyebabkan gangguan bisnis pada satu perusahaan, tetapi juga seluruh sektor bisnis, bahkan infrastruktur utama. “Manajemen risiko harus dapat merefleksikan fakta terbaru ini. Mengidentifikasi tingkat bencana di masing-masing daerah,” ungkapnya.

Di Indonesia, katanya, faktor risiko bisnis terbesar datang dari bencana alam, selain risiko kebakaran dan ledakan. Letak dan strukturgeografisdarinegaraIndonesia menjadikannya negara paling rentan terhadap bencana. Bencana alam dapat terjadi secara tiba-tiba maupun melalui proses yang berlangsung secara perlahan. Beberapa jenis bencana seperti gempa bumi hampir tidak mungkin diperkirakan secara akurat kapan, di mana akan terjadi, dan besaran kekuatannya.

Bencana alam lain seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, letusan gunung berapi, tsunami, dan anomali cuaca masih dapat diramalkan sebelumnya. “Faktanya kejadian bencana selalu memberikan dampak kejutan dan menimbulkan banyak kerugian baik jiwa maupun materi,” sebut dia.

Berdasarkan data laporan yang dikeluarkan Asian Development Bank (ADB), antara 1970 sampai 2012, lebih dari setengah kematian di dunia yang berhubungan dengan bencana terjadi di kawasan Asia-Pasifik.

Hafid fuad
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
1 jam yang lalu
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
1 jam yang lalu
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
1 jam yang lalu
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
2 jam yang lalu
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
3 jam yang lalu
Kanda Dukung Afi Trending...
'Kanda Dukung Afi' Trending Global Jelang Pemilihan Ketum Hipmi
3 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved