Data AS Tak Bagus Bikin Rupiah Menguat
Selasa, 24 Maret 2015 - 16:55 WIB
Data AS Tak Bagus Bikin Rupiah Menguat
A
A
A
JAKARTA - Pengamat ekonomi Lana Soelistianingsih mengatakan, mata uang rupiah saat ini mengalami apresiasi di bawah Rp13.000 per USD karena mata uang USD melemah terhadap semua mata uang dunia termasuk rupiah. Ini juga didukung banyak pihak yang memperkirakan data ekonomi AS tidak terlalu baik.
Bahkan, kata dia, tidak mungkin selamanya mata uang AS bisa terus menerus menguat. Pasti ada kalanya terdepresiasi. "Kalau kemarin-kemarin sempat menguat pasti ada saatnya dia turun. Banyak juga yang memperkirakan bahwa data Amerika Serikat sedang tidak begitu bagus," ujar Lana kepada Sindonews di Jakarta, Selasa (24/3/2015).
Bahkan, Lana mengatakan, posisi USD saat ini terdepresiasi terhadap negara G-10 yang memiliki mata uang utama di dunia seperti AUS, Euro, Poundsterling, Yen dan Yuan. "Untuk di Asia dan emerging market lainnya juga mengalami penguatan termasuk di Indonesia," imbuhnya.
Namun, Lana belum bisa memastikan, kapan penguatan rupiah ini akan bertahan terhadap mata uang USD. Dia mengaku masih melihat dan memperkirakan data-data di Amerika terlebih dahulu.
"Kita perkirakan data-data di Amerika Serikat saja dulu. Membaik atau stagnan. Karena data itu yang tentutkan The Fed akan naikkan suku bunga atau enggak. Itu ekspektasinya. Apalagi kemarin ada indikasi sinyal dari The Fed baru akan menaikkan kira-kira Juni 2015 ke atas. Jadi buat negara di luar AS, ini melegakan," ujar dia.
Lana juga berharap, rupiah bisa mencapai di angka Rp12.500/USD lagi sesuai ekspektasi pemerintah yang tertuang dalam APBNP 2015. "Harapannya segitu, karena memperkirakaan kursnya pemerintah juga. Kalau terlalu jauh, hitungan pemerintah juga jadi berubah," tandasnya.
(Baca: Rupiah Berakhir Kian Perkasa di Rp12.912/USD)
Bahkan, kata dia, tidak mungkin selamanya mata uang AS bisa terus menerus menguat. Pasti ada kalanya terdepresiasi. "Kalau kemarin-kemarin sempat menguat pasti ada saatnya dia turun. Banyak juga yang memperkirakan bahwa data Amerika Serikat sedang tidak begitu bagus," ujar Lana kepada Sindonews di Jakarta, Selasa (24/3/2015).
Bahkan, Lana mengatakan, posisi USD saat ini terdepresiasi terhadap negara G-10 yang memiliki mata uang utama di dunia seperti AUS, Euro, Poundsterling, Yen dan Yuan. "Untuk di Asia dan emerging market lainnya juga mengalami penguatan termasuk di Indonesia," imbuhnya.
Namun, Lana belum bisa memastikan, kapan penguatan rupiah ini akan bertahan terhadap mata uang USD. Dia mengaku masih melihat dan memperkirakan data-data di Amerika terlebih dahulu.
"Kita perkirakan data-data di Amerika Serikat saja dulu. Membaik atau stagnan. Karena data itu yang tentutkan The Fed akan naikkan suku bunga atau enggak. Itu ekspektasinya. Apalagi kemarin ada indikasi sinyal dari The Fed baru akan menaikkan kira-kira Juni 2015 ke atas. Jadi buat negara di luar AS, ini melegakan," ujar dia.
Lana juga berharap, rupiah bisa mencapai di angka Rp12.500/USD lagi sesuai ekspektasi pemerintah yang tertuang dalam APBNP 2015. "Harapannya segitu, karena memperkirakaan kursnya pemerintah juga. Kalau terlalu jauh, hitungan pemerintah juga jadi berubah," tandasnya.
(Baca: Rupiah Berakhir Kian Perkasa di Rp12.912/USD)
(izz)