Kasus Perbudakan Ancam Bisnis Perikanan Indonesia

Selasa, 31 Maret 2015 - 09:42 WIB
Kasus Perbudakan Ancam...
Kasus Perbudakan Ancam Bisnis Perikanan Indonesia
A A A
JAKARTA - Pemerintah harus bergerak cepat untuk mengklarifikasi isu terkait praktik perbudakan nelayan di perairan Indonesia. Jika tidak, produk perikanan Indonesia terancam diboikot dan terganggu ekspornya.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menegaskan komitmen pemerintah untuk menindak setiap praktik perbudakan. Ia menyadari pentingnya merespons dan menyampaikan pesan kepada dunia bahwa Indonesia tidak akan melakukan pembiaran atas kasus perbudakan yang terjadi di perairan Indonesia.

”Kita tidak ingin dianggap merestui praktik perbudakan. Kalau kita tidak cepat bereaksi, roda bisnis seafood kita akan habis,” ujarnya di sela-sela kegiatan semiloka ”Penguatan Penegakan Hukum di Bidang Kelautan dan Perikanan” di Jakarta kemarin.

Kekhawatiran Susi beralasan karena negara-negara tujuan ekspor produk perikanan Indonesia seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa sangat sensitif terhadap isu praktik perikanan yang tidak sesuai ketentuan. Ia tidak ingin produk perikanan Indonesia bernasib sama dengan komoditas sawit Indonesia yang dihajar dengan isu lingkungan sehingga sulit diterima negara-negara Uni Eropa.

”Total ekspor seafood kita USD4,6 miliar. Bisa jadi kita tidak bisa ekspor lagi ke Eropa dan Amerika karena mereka akan memboikot,” cetusnya. Kasus perbudakan mengemuka setelah media internasional, Associated Press (AP ) belum lama ini menerbitkan laporan investigatif terkait praktik perbudakan terhadap ratusan orang Myanmar di Benjina, Maluku.

Investigasi selama setahun itu mendapati keberadaan sejumlah warga Myanmar yang didatangkan melalui Thailand untuk kemudian dipaksa bekerja di sebuah perusahaan berinisial PBR. Mereka mendapat perlakuan tidak manusiawi seperti tidak diperbolehkan libur dan tidak diberi cukup makan. Kendati terdaftar sebagai perusahaan PMA di Indonesia, PT PBR sendiri disinyalir menaungi kapal-kapal penangkap ikan Thailand.

Terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan (AP5I) Thomas Darmawan merasa prihatin dengan temuan tersebut. Ia pun khawatir masalah-masalah yang terjadi diperairan Indonesia akan memengaruhi persepsi konsumen khususnya di luar negeri.

Untuk itu, ia sepakat pemerintah harus bergerak cepat. ”Kami mendukung investigasi lebih lanjut supaya jangan sampai ada hal seperti ini,” ujarnya.

Inda susanti
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Saat Infrastruktur,...
Saat Infrastruktur, Fasilitas, dan Komunitas Tumbuh Bersama dalam Satu Kawasan
8 jam yang lalu
Cara PAMA Ikut Meningkatkan...
Cara PAMA Ikut Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat
8 jam yang lalu
Prabowo: 66,4 Juta Warga...
Prabowo: 66,4 Juta Warga RI Dapat LPG Subsidi, Lebih Banyak dari Penduduk Singapura
9 jam yang lalu
Menanti Peran Besar...
Menanti Peran Besar Pertamina dalam Proyek LNG Kelas Dunia Blok Masela
9 jam yang lalu
Purbaya Segera Temui...
Purbaya Segera Temui Kepala BGN, Bahas Pemotongan Anggaran MBG
10 jam yang lalu
Soal Investor PFII Bebas...
Soal Investor PFII Bebas Pajak hingga 50 Tahun, Purbaya: Masih Belum Tentu
10 jam yang lalu
Infografis
3 Kejanggalan Penanganan...
3 Kejanggalan Penanganan Kasus Febrie Adriansyah, KPK Diminta Bertindak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved