Denmark Akan Bergabung dengan Bank Infrastruktur China

Selasa, 31 Maret 2015 - 09:43 WIB
Denmark Akan Bergabung...
Denmark Akan Bergabung dengan Bank Infrastruktur China
A A A
BEIJING - Denmark mengajukan aplikasi untuk bergabung dengan Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) yang dimotori China.

Kementerian Keuangan( kemenkeu) China mengungkapkan hal itu kemarin. Denmark menjadi negara Eropa terbaru yang bergabung AIIB, meski lembaga itu mendapat kritik dari Amerika Serikat (AS).

Menurut Kemenkeu China, Denmark telah menulis kepada China untuk mengumumkan niatnya mengajukan menjadi anggota pendiri AIIB. ”China menyambut keputusan Denmark,” tulis Kemenkeu China dalam pernyataan di website -nya, dikutip kantor berita AFP.

Kemenkeu menyatakan, China akan terlebih dulu meminta pendapat pada para anggota lainnya. Jika keputusan itu disetujui, Denmark akan secara resmi menjadi anggota pendiri AIIB pada 12 April. Akhir pekan lalu Rusia, Australia, dan Belanda menjadi tiga negara terbaru yang menyatakan mereka berencana bergabung AIIB.

Lembaga baru ini dianggap semakin memperkuat pengaruh China secara regional dan global. China telah menetapkan batas waktu 31 Maret untuk menjadi anggota pendiri AIIB. Berdirinya AIIB itu juga dianggap sebagai kemunduran AS yang berupaya memperluas pengaruhnya di kawasan Asia Pasifik dan menyeimbangkan pertumbuhan pengaruh keuangan China.

AIIB dinilai sebagai tantangan bagi Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB) yang dimotori Washington. Bank Dunia dan ADB juga menjadi kepanjangan tangan pengaruh AS secara global dan regional. AS telah meminta berbagai negara berpikir dua kali untuk bergabung dengan AIIB hingga lembaga itu mampu menunjukkan standar yang cukup untuk menjagatatanansosial, lingkungan, dan pemerintahan.

Meski demikian, negara-negara aliansi AS yakni Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia pada bulan ini mengumumkan mereka akan bergabung ke AIIB. Bahkan, baru-baru ini Rusia pun telah menyatakan akan bergabung ke AIIB.

Rusia berupaya mendekatkan diri dengan China dalam beberapa tahun terakhir dan upaya ini meningkat seiring pembekuan hubungan dengan Barat yang memberlakukan sanksi ekonomi yang sangat keras pada Moskow. Rusia berharap bisa membangun kerja sama dalam format China dan Uni Ekonomi Eurasia.

Syarif
(bhr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
3 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
4 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
5 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
7 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
7 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
7 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved