Kinerja Tim Ekonomi Jokowi Dinilai Jeblok

Kamis, 09 April 2015 - 15:42 WIB
Kinerja Tim Ekonomi...
Kinerja Tim Ekonomi Jokowi Dinilai Jeblok
A A A
JAKARTA - ‎Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) baru berjalan hampir satu semester. Namun sejumlah kalangan menilai, kinerja tim ekonomi bentukan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut memiliki prestasi jeblok.

Pengamat ekonomi Drajad Wibowo menuturkan, rapor merah para pembantu Jokowi bidang ekonomi tersebut dapat dilihat dari berbagai sisi. Salah satunya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan sekitar 5% atau di bawah target tahun ini sebesar 5,7%.

"‎Dari sisi pertumbuhan, salah satu sumber pertumbuhan itu belanja negara. Nah, cuma sekarang ini kan betul-betul tersendat, sehingga arus masuk uang ke perekonomian berkurang. Jadi sekarang banyak yang perkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 jauh di bawah target atau sekitar 5%," tuturnya kepada Sindonews di Jakarta, Kamis (9/4/2015).

Bahkan, sambung mantan Tim Ekonomi Prabowo ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 bisa di bawah 5% jika pemerintah kurang hati-hati. Pasalnya, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai sangat mengecewakan.

Drajad melanjutkan, dari sisi stabilitas makro dan fiskal tidak kalah mengecewakannya. Ini terlihat dari kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang terus terdepresiasi hingga menembus level Rp13.000/USD, melampaui target dalam APBN-P 2015 sebesar Rp12.500/USD.

"‎Ekspor kita juga turun, kemudian harga-harga naik, inflasi relatif besar dan paling mengkhawatirkan itu APBN terancam krisis," ucap dia.

Krisis yang mengancam APBN Indonesia dipicu oleh penerimaan negara melalui perpajakan yang cenderung di bawah target dalam tiga bulan terakhir.

"Kan baru 13%. Malah Menteri Keuangan (Bambang Brodjonegoro) bilang baru 10% dalam tiga bulan. Jadi itu dari sisi stabilitas juga merosot," tegas Drajad.

Dia menambahkan, meskipun saat ini tingkat pemerataan yang dilihat dari lapangan pekerjaan ataupun indeks gini rasio belum dirilis, namun dengan terganggunya pertumbuhan ekonomi dan stabilitas Indonesia pasti akan berpengaruh kepada tingkat pemerataan di Tanah Air.

"Kalau pertumbuhan dan stabilitas terganggu, pemerataan akan lebih jelek juga. Dengan indikator objektif itu, memang kinerja tim ekonomi jeblok selama dua kuartal," tandas Drajad.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Momentum ketika Jokowi...
Momentum ketika Jokowi Bertemu Joko Widodo
Gunakan Aplikasi Baru...
Gunakan Aplikasi Baru saat Ratas, Jokowi: Sudah Dengar? Tes, Tes, Tes
1 Jam Pertemuan Dubes...
1 Jam Pertemuan Dubes Belanda dengan Jokowi, Ini yang Dibicarakan
Ketika Ketum MUI Panggil...
Ketika Ketum MUI Panggil Jokowi Insinyur Haji Muhammad Joko Widodo
Banjir Ucapan Selamat...
Banjir Ucapan Selamat Ultah, Jokowi: Saya Hanya Bisa Mengucap Syukur
Puluhan Tahun Impor...
Puluhan Tahun Impor Mesin, Jokowi: Jangan Cuma Beli Jadi, Akuisisi Teknologinya!
Berita Terkini
IHSG Ditutup Bertahan...
IHSG Ditutup Bertahan di Level 6.039, Ada 439 Saham Menguat
31 menit yang lalu
LKPP 2025 Raih Opini...
LKPP 2025 Raih Opini WTP dengan Defisit Terkendali, Purbaya Selesaikan Temuan BPK
55 menit yang lalu
Hapus Pajak JHT, Presiden...
Hapus Pajak JHT, Presiden Buruh Klaim Kantongi Restu Dirut BPJS Ketenagakerjaan
1 jam yang lalu
Harga Eceran Tertinggi...
Harga Eceran Tertinggi MinyaKita Berpotensi Naik, Begini Kata Mendag Budi
2 jam yang lalu
Nindia Karya Rampungkan...
Nindia Karya Rampungkan Pembangunan 20 Sekolah Rakyat Tahap II di 4 Provinsi
2 jam yang lalu
Resmi, Harga BBM Solar...
Resmi, Harga BBM Solar Khusus Nelayan Dipatok Rp15.000 per Liter
2 jam yang lalu
Infografis
Siapa John Ternus, Bos...
Siapa John Ternus, Bos Baru Apple Pengganti Tim Cook?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved