Larangan BUMD Libatkan Swasta Perlu Dikaji Ulang

Jum'at, 10 April 2015 - 09:23 WIB
Larangan BUMD Libatkan...
Larangan BUMD Libatkan Swasta Perlu Dikaji Ulang
A A A
JAKARTA - Rencana pemerintah menerbitkan peraturan yang melarang swasta dilibatkan dalam eksekusi hak partisipasi (participating interest) pada blok minyak dan gas (migas) oleh pemerintah daerah (pemda) maupun BUMD perlu dikaji ulang.

Sebab, tak semua pemda/BUMD memiliki modal atau kecakapan teknis untuk terlibat dalam pengelolaan blok migas. Seperti diketahui, pemda/ BUMD mempunyai hak participating interest 10% dalam pengelolaan blok migas di wilayahnya berdasarkan Undang- Undang (UU) No 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi serta Pasal 34 Peraturan Pemerintah (PP) No 35/2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi.

Kebijakan itu menegaskan hak daerah atas keikutsertaan dalam pengelolaan blok migas di wilayah masing- masing. Itu merupakan terobosan positif yang ditujukan untuk meningkatkan kemandirian daerah.

”Tapi di sisi lain, perlu diperhatikan bahwa tidak semua BUMD mempunyai modal yang cukup untuk bisa mengeksekusi participating interest 10% tersebut. Selain itu, jika BUMD yang menjalankansepenuhnya participating interestitu, apakah mereka memiliki tenaga ahli yang memadai dan kompeten sesuai kualifikasi teknis yang dibutuhkan,” kata Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan dalam keterangan tertulis, kemarin.

Karena itu, rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menerbitkan peraturan menteri yang melarang keterlibatan swasta dalam participating interest10% perlu dikritisi dan dikaji kembali. Mamit menyebutkan, data Badan Kerja Sama BUMD Seluruh Indonesia menunjukkan, dari 1.113 BUMD yang ada di Indonesia, hanya sekitar 40% yang masuk kategori sehat.

”Mayoritas BUMD dengan nilai aset totalnya mencapai Rp400 triliun sekarang ini dalam kondisi stagnan atau tinggal papan nama. Dan, mayoritas BUMD yang sehat tersebut berada di Jawa,” kata dia. Terkait participating interest, Mamit mengingatkan bahwa industri migas merupakan industri padat modal serta berisiko tinggi.

Untuk membagi risiko dan beban biaya tersebut, seharusnya swasta justru dilibatkan oleh BUMD dalam pengelolaan participatinginterest yangdimilikinya. Namun, swasta yang dilibatkan dalam participating interestmilik daerah haruslah profesional dengan modal yang mencukupi sehingga bisa membantu pemberdayaan BUMD melalui transfer keahlian. Sebelumnya Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, saat ini draf aturan tentang pengelolaan participating interest daerah sedang tahap finalisasi di Biro Hukum Kementerian ESDM.

”Tujuan kami adalah ingin memberi koridor pasti supaya tidak ada spekulasi baik jangka-waktu, jarak, lokasi, dan kriteria participating interest. Ini mengurangi ketidakpastian dan meyakinkan benefitpartisipasi ini sampai pada masyarakat,” paparnya.

M faizal
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
3 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
3 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
4 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
5 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
5 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
6 jam yang lalu
Infografis
MK Putuskan SD-SMP Negeri...
MK Putuskan SD-SMP Negeri dan Swasta Gratis
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved