BPKP Diminta Lakukan Audit Proyek Cilamaya

Selasa, 14 April 2015 - 10:40 WIB
BPKP Diminta Lakukan...
BPKP Diminta Lakukan Audit Proyek Cilamaya
A A A
JAKARTA - Keputusan Pemerintah melalui Wapres Jusuf Kalla untuk membatalkan rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya bukan akhir segalanya. Yang tak kalah penting adalah melakukan pemeriksaan secara komprehensif, termasuk mengenai proses feasibility study proyek tersebut.

”Tidak ada jalan lain, kecuali BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) harus melakukan pemeriksaan,” ujar Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Profesor Budyatna dalam keterangan tertulisnya di Jakarta kemarin. Menurut Budyatna, hanya melaluipemeriksaanBPKP, akan diketahui apakah proyek tersebut sebenarnya layak atau tidak.

Apalagi, sebelumnya memang banyak pro dan kontra seputar rencana pembangunan pelabuhan yang ditaksir menelan biaya Rp34 triliun tersebut. Pro-kontra di antaranya mengenai amdal yang bermasalah, lokasi yang dekat dengan sawah produktif kelas satu seluas 150.000 hektare (ha), dan terganggunya pipa-pipa Pertamina yang selama ini menyuplai gas untuk kebutuhan listrik di Jakarta.

Yang tak kalah penting adalah soal pendanaan. Melalui pemeriksaan BPKP akan diketahui, berapa besar dana yang dibutuhkan, termasuk yang sudah dikeluarkan untuk mendanai proses feasibility study. ”Jangan- jangan memang benar dari Jepang,” kata Budyatna. Dari hasil pemeriksaan itulah bisa dikembangkan, untuk kepentingan siapa sebenarnya Pelabuhan Cilamaya.

Apakah memang untuk kepentingan nasional atau semata-mata demi kepentingan pihak lain, misalnya Jepang. Yang jelas, lanjut Budyatna, ngototnya beberapa pihak untuk menggolkan proyek Cilamaya menandakan banyaknya kepentingan . Budyatna sendiri tidak heran dengan fenomena tersebut. Menurutnya, saat ini memang ada kecenderungan para menteri melakukan ”pembangkangan” dan bermain-main sendiri. Hal ini dimungkinkan karena dia menduga banyak titipan di dalam jajaran kabinet Presiden Jokowi.

Desakan agar BPKP segera melakukan pemeriksaan terhadap proyek Cilamaya juga datang dari Ketua Setara Institute Hendardi. Menurutnya, pemeriksaan harus dilakukan agar siapa yang bermain pada proyek tersebut menjadi terang-benderang.

Apalagi, meski diketahui bahwa banyak kepentingan nasional yang bakal menjadi korban, termasuk sektor pertanian dan energi, kesan proyek tersebut sangat dipaksakan juga begitu kuat. ”Ini sangat erat kaitannya dengan kepentingan-kepentingan. Tak ada jalan lain, BPKP harus segera melakukan pemeriksaan,” tegas Hendardi.

Sudarsono
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
19 menit yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
35 menit yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
1 jam yang lalu
Kepala BGN Baru Sebut...
Kepala BGN Baru Sebut MBG Tender Politik Prabowo: Tak Bisa Dibubarkan
1 jam yang lalu
Potensi Tokenisasi Aset...
Potensi Tokenisasi Aset Capai USD2 Triliun di 2030, Keamanan Investor Jadi Kunci
1 jam yang lalu
Airlangga Sangkal PFII...
Airlangga Sangkal PFII Jadi Surga Pencucian Uang: Bukan untuk Dana-dana Gelap
2 jam yang lalu
Infografis
3 Kejanggalan Penanganan...
3 Kejanggalan Penanganan Kasus Febrie Adriansyah, KPK Diminta Bertindak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved