Trump Melunak Soal Tarif, Kurs Rupiah Balik Menguat usai Hampir Ambruk ke Rp17 Ribu
Kamis, 10 April 2025 - 17:38 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) ditutup menguat 49,5 poin atau 0,29% akibat sentimen global dan domestik, terutama terkait kebijakan tarif baru AS. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) ditutup menguat 49,5 poin atau 0,29% ke level Rp16.823 per dolar AS pada perdagangan Kamis (10/4/2025). Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya rupiah mengalami tekanan akibat sentimen global dan domestik, terutama terkait kebijakan tarif impor baru AS .
Penguatan kurs rupiah juga terlihat pada data JISDOR BI (Bank Indonesia), dimana pada hari ini bertengger pada posisi Rp16.779 per USD. Mata uang rupiah jauh lebih baik dari sesi kemarin usai ambruk hingga Rp16.943 per USD.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar global mengurangi beberapa ekspektasi untuk resesi AS. Namun prospek ekonomi jangka pendek tetap tidak pasti, dengan risalah rapat Federal Reserve bulan Maret menunjukkan para pembuat kebijakan gelisah atas inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Menuju Rp17.000, Intip Dampak dan Mitigasinya
“Sementara kekhawatiran akan resesi mereda setelah Trump mengumumkan perpanjangan 90 hari untuk memberlakukan putaran tarif timbal balik terbarunya, pasar masih tetap waspada terhadap agenda kebijakannya, terutama mengingat perubahan sikapnya baru-baru ini terkait tarif. Perang dagang yang meningkat dengan Tiongkok juga menghadirkan hambatan ekonomi yang berkelanjutan bagi AS, mengingat negara tersebut masih menjadi mitra dagang utama,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Kamis (10/4/2025).
Perang dagang AS-China memanas, setelah Trump menaikkan tarif AS terhadap negara tersebut hingga 125 persen yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beijing telah membalas tarif Trump pada hari Rabu dengan mengenakan tarif balasan sebesar 84 persen pada barang-barang Amerika.
Penguatan kurs rupiah juga terlihat pada data JISDOR BI (Bank Indonesia), dimana pada hari ini bertengger pada posisi Rp16.779 per USD. Mata uang rupiah jauh lebih baik dari sesi kemarin usai ambruk hingga Rp16.943 per USD.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar global mengurangi beberapa ekspektasi untuk resesi AS. Namun prospek ekonomi jangka pendek tetap tidak pasti, dengan risalah rapat Federal Reserve bulan Maret menunjukkan para pembuat kebijakan gelisah atas inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Menuju Rp17.000, Intip Dampak dan Mitigasinya
“Sementara kekhawatiran akan resesi mereda setelah Trump mengumumkan perpanjangan 90 hari untuk memberlakukan putaran tarif timbal balik terbarunya, pasar masih tetap waspada terhadap agenda kebijakannya, terutama mengingat perubahan sikapnya baru-baru ini terkait tarif. Perang dagang yang meningkat dengan Tiongkok juga menghadirkan hambatan ekonomi yang berkelanjutan bagi AS, mengingat negara tersebut masih menjadi mitra dagang utama,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Kamis (10/4/2025).
Perang dagang AS-China memanas, setelah Trump menaikkan tarif AS terhadap negara tersebut hingga 125 persen yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beijing telah membalas tarif Trump pada hari Rabu dengan mengenakan tarif balasan sebesar 84 persen pada barang-barang Amerika.
Lihat Juga :