Menkeu: IHSG Anjlok karena Investor Tak Sabar
Kamis, 30 April 2015 - 12:26 WIB
Menkeu: IHSG Anjlok karena Investor Tak Sabar
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro menilai, menurunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) karena investor tidak sabar terhadap perusahaan mereka. Sehingga para investor tersebut banyak melakukan aksi jual aset.
Ini dikarenakan para investor menilai bahwa pertumbuhan ekonomi di triwulan I bisa melaju kencang seperti perkiraan mereka. Padahal seperti yang diketahui, pertumbuhan ekonomi sampai triwulan I/2015 diperkirakan akan sedikit di bawah 5%.
"Ya yang namanya investor itu bukan orang sabar, mereka maunya quick yield. Jadi kalau mereka berharap ada pertumbuhan yang tinggi tahun ini, mereka berpikirnya dari triwulan pertama sudah harus tinggi," ujar Bambang di Jakarta, Kamis (30/4/2015).
Bambang mengatakan, ini mungkin tidak bisa sesuai ekspektasi mereka para investor. Jadi, kemungkinan pergerakan pertumbuhan baru mulai di kuartal II dan lebih banyak di semester II. (Baca: IHSG Sesi I Ditutup Masih Tertekan).
Dia menjelaskan, perkiraan pertumbuhan ekonomi bakal di bawah 5% karena memang terjadi perlambatan. "Tadi Pak Wapres bilang di seluruh dunia data tri wulan I di hampir negara-negara ekonomi besar semuanya di bawah perkiraan. China 7%, itu di bawah standar rendahnya mereka, Jepang 0,4%, Korsel 3,2%, dan ASEAN relatif di bawah," tuturnya.
Menkeu akan melihat ini lebih lanjut yang diduga merupakan gejala global, apalagi ditambah turunnya harga minyak yang lama-lama akan membuat ekonomi dunia mengalami tren perlambatan.
Kondisi tersebut juga akan berpengaruh ke pertumbuhan ekonomi kuartal I Indonesia. "Sampai kuartal I mungkin sedikit di bawah 5% kalau menurut perkiraan saya," pungkasnya. (Baca: Ini Kata JK Soal Mayoritas Saham di BEI Turun)
Ini dikarenakan para investor menilai bahwa pertumbuhan ekonomi di triwulan I bisa melaju kencang seperti perkiraan mereka. Padahal seperti yang diketahui, pertumbuhan ekonomi sampai triwulan I/2015 diperkirakan akan sedikit di bawah 5%.
"Ya yang namanya investor itu bukan orang sabar, mereka maunya quick yield. Jadi kalau mereka berharap ada pertumbuhan yang tinggi tahun ini, mereka berpikirnya dari triwulan pertama sudah harus tinggi," ujar Bambang di Jakarta, Kamis (30/4/2015).
Bambang mengatakan, ini mungkin tidak bisa sesuai ekspektasi mereka para investor. Jadi, kemungkinan pergerakan pertumbuhan baru mulai di kuartal II dan lebih banyak di semester II. (Baca: IHSG Sesi I Ditutup Masih Tertekan).
Dia menjelaskan, perkiraan pertumbuhan ekonomi bakal di bawah 5% karena memang terjadi perlambatan. "Tadi Pak Wapres bilang di seluruh dunia data tri wulan I di hampir negara-negara ekonomi besar semuanya di bawah perkiraan. China 7%, itu di bawah standar rendahnya mereka, Jepang 0,4%, Korsel 3,2%, dan ASEAN relatif di bawah," tuturnya.
Menkeu akan melihat ini lebih lanjut yang diduga merupakan gejala global, apalagi ditambah turunnya harga minyak yang lama-lama akan membuat ekonomi dunia mengalami tren perlambatan.
Kondisi tersebut juga akan berpengaruh ke pertumbuhan ekonomi kuartal I Indonesia. "Sampai kuartal I mungkin sedikit di bawah 5% kalau menurut perkiraan saya," pungkasnya. (Baca: Ini Kata JK Soal Mayoritas Saham di BEI Turun)
(izz)
Lihat Juga :