Harga Minyak Jatuh Dipicu Melemahnya Manufaktur China
Senin, 04 Mei 2015 - 10:45 WIB
Harga Minyak Jatuh Dipicu Melemahnya Manufaktur China
A
A
A
SYDNEY - Harga Minyak dunia jatuh untuk hari kedua karena manufaktur China melemah pada April, menandakan permintaan bahan bakar melambat di negara konsumen minyak terbesar dunia tersebut.
Data final HSBC Holdings Plc dan Markit Economics menunjukkan bahwa indeks pembelian manajer (PMI) China berada di 48,9 pada April, di bawah survei Bloomberg. (Baca: HSBC: Manufaktur China Lanjutkan Kontraksi)
Sementara Kementerian Perminyakan Irak menyatakan, Irak sebagai produsen terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencatat ekspor minyak mentah mencapai level tertinggi dalam tiga dekade pada April.
Rebound-nya harga minyak dari harga terendah enam tahun pada Maret mulai goyah di tengah spekulasi gagalnya pemulihan segera pada konsumsi global untuk meringankan berlimpahnya pasokan.
Persediaan minyak mentah AS meningkat paling tinggi dalam 85 tahun, meski pengebor telah mengurangi jumlah rig aktif paling sedikit sejak September 2010.
"Harga minyak secara keseluruhan sedang berjuang dari melemahnya data China, mengakibatkan menurunnya permintaan," kata analis utama di CMC Markets Ric Spooner seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (4/5/2015).
Kontrak berjangka turun 0,7% di New York. Minyak West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange untuk pengiriman Juni turun 43 sen menjadi USD58,72/barel dan berada di USD58,84 pada pukul 12.33 siang waktu Sydney.
Kontrak ini turun 0,8% menjadi USD59,15 pada 1 Mei. Sementara total volume sekitar 60% di bawah rata-rata 100 hari. Harga telah meningkat 10% sepanjang tahun ini.
Adapun minyak Brent di London ICE Futures Europe Exchange untuk pengiriman Juni susut 21 sen menjadi USD66,25/barel. Premi minyak minyak mentah patokan Eropa ini terhadap WTI diperdagangkan sebesar USD7,44.
Menurut proyeksi Badan Energi Internasional (IEA), permintaan minyak oleh China pada tahun ini akan mencapai 11% dari permintaan global.
Data final HSBC Holdings Plc dan Markit Economics menunjukkan bahwa indeks pembelian manajer (PMI) China berada di 48,9 pada April, di bawah survei Bloomberg. (Baca: HSBC: Manufaktur China Lanjutkan Kontraksi)
Sementara Kementerian Perminyakan Irak menyatakan, Irak sebagai produsen terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencatat ekspor minyak mentah mencapai level tertinggi dalam tiga dekade pada April.
Rebound-nya harga minyak dari harga terendah enam tahun pada Maret mulai goyah di tengah spekulasi gagalnya pemulihan segera pada konsumsi global untuk meringankan berlimpahnya pasokan.
Persediaan minyak mentah AS meningkat paling tinggi dalam 85 tahun, meski pengebor telah mengurangi jumlah rig aktif paling sedikit sejak September 2010.
"Harga minyak secara keseluruhan sedang berjuang dari melemahnya data China, mengakibatkan menurunnya permintaan," kata analis utama di CMC Markets Ric Spooner seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (4/5/2015).
Kontrak berjangka turun 0,7% di New York. Minyak West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange untuk pengiriman Juni turun 43 sen menjadi USD58,72/barel dan berada di USD58,84 pada pukul 12.33 siang waktu Sydney.
Kontrak ini turun 0,8% menjadi USD59,15 pada 1 Mei. Sementara total volume sekitar 60% di bawah rata-rata 100 hari. Harga telah meningkat 10% sepanjang tahun ini.
Adapun minyak Brent di London ICE Futures Europe Exchange untuk pengiriman Juni susut 21 sen menjadi USD66,25/barel. Premi minyak minyak mentah patokan Eropa ini terhadap WTI diperdagangkan sebesar USD7,44.
Menurut proyeksi Badan Energi Internasional (IEA), permintaan minyak oleh China pada tahun ini akan mencapai 11% dari permintaan global.
(rna)
Lihat Juga :