Mantan Menkeu Pesimistis RI Capai Target Pertumbuhan
Selasa, 05 Mei 2015 - 22:01 WIB
Mantan Menkeu Pesimistis RI Capai Target Pertumbuhan
A
A
A
JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri pesimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia (RI) hingga akhir 2015 bisa mencapai target 5,4-5,7%. Hal ini melihat buruknya kinerja pemerintah dalam penyerapan anggaran dan perlambatan pertumbuhan pada triwulan pertama yang hanya 4,7%.
"5,2% saja menurut saya berat ya. Apalagi di posisi yang ditargetkan pemerintah sampai 5,7%. Agak pesimis. Tapi, kalau di angka 4,9 atau 5% masih bisa dan mudah-mudahan bisa terus stabil segitu," ujar Chatib kepada Sindonews, Selasa (5/5/2015) malam.
Chatib menuturkan, di lihat dari sisi eksternal tergantung juga dari China (Tiongkok) sebagai mitra ekspor Indonesia. Pasalnya, negara tersebut sedang mengalami perlambatan ekonomi.
"Tergantung pada China seperti apa ekspornya. Kemudian tergantung juga pada belanja pemerintah pencairannya seperti apa. Itu saja sih harapannya. Ada pada belanja pemerintah," terangnya.
Jika belanja pemerintah digeber, lanjut dia, semua proyek akan berjalan. Belanja pemerintah dengan otomatis dapat berjalan dengan baik dan realisasi pajak bisa tercapai. Namun, growth pajak hingga April 2015 mengalami tren negatif.
"Kan sampai April itu cuma Rp260 triliun, dibanding tahun lalu Rp314 triliun. Kalau pajaknya enggak tercapai, kita enggak bakalan bisa belanja. Lagi-lagi nanti target pertumbuhan ekonomi pemerintah tidak tercapai," imbuhnya. (Baca: Pemerintah Tak Menduga Pertumbuhan Bisa Melambat)
Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama sebesar 4,7%. Angka ini dinilai tak terlalu bagus untuk Indonesia. Namun, Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Panjaitan optimistis pada kuartal III dan IV, kondisi ekonomi bisa membaik di angka 5,4-5,6%.
"Pertumbuhannya mungkin tidak langsung 5,8%. Tapi bisa 5,4% dan 5,6%. Hal ini masih dikarenakan kondisi ekonomi global sedang dalam situasi sulit," ungkap Luhut di Istana Negara.
"5,2% saja menurut saya berat ya. Apalagi di posisi yang ditargetkan pemerintah sampai 5,7%. Agak pesimis. Tapi, kalau di angka 4,9 atau 5% masih bisa dan mudah-mudahan bisa terus stabil segitu," ujar Chatib kepada Sindonews, Selasa (5/5/2015) malam.
Chatib menuturkan, di lihat dari sisi eksternal tergantung juga dari China (Tiongkok) sebagai mitra ekspor Indonesia. Pasalnya, negara tersebut sedang mengalami perlambatan ekonomi.
"Tergantung pada China seperti apa ekspornya. Kemudian tergantung juga pada belanja pemerintah pencairannya seperti apa. Itu saja sih harapannya. Ada pada belanja pemerintah," terangnya.
Jika belanja pemerintah digeber, lanjut dia, semua proyek akan berjalan. Belanja pemerintah dengan otomatis dapat berjalan dengan baik dan realisasi pajak bisa tercapai. Namun, growth pajak hingga April 2015 mengalami tren negatif.
"Kan sampai April itu cuma Rp260 triliun, dibanding tahun lalu Rp314 triliun. Kalau pajaknya enggak tercapai, kita enggak bakalan bisa belanja. Lagi-lagi nanti target pertumbuhan ekonomi pemerintah tidak tercapai," imbuhnya. (Baca: Pemerintah Tak Menduga Pertumbuhan Bisa Melambat)
Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama sebesar 4,7%. Angka ini dinilai tak terlalu bagus untuk Indonesia. Namun, Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Panjaitan optimistis pada kuartal III dan IV, kondisi ekonomi bisa membaik di angka 5,4-5,6%.
"Pertumbuhannya mungkin tidak langsung 5,8%. Tapi bisa 5,4% dan 5,6%. Hal ini masih dikarenakan kondisi ekonomi global sedang dalam situasi sulit," ungkap Luhut di Istana Negara.
(dmd)
Lihat Juga :