Shadow Banking di China, Simak Fakta-faktanya: Mulai dari Pemicu hingga Kriminalisasi Bunga

Sabtu, 26 Agustus 2023 - 13:43 WIB
Pelaku industri porperti dan juga pemerintah daerah di China--yang punya target dalam pemenuhan kebutuhan rumah warganya--mencari celah untuk mendapatkan pendanaan yang besar. Muncullah, LGFV (Local Government Funding Vehicles) atau UDICs (Urban Development and Investment Companies), “vehicle” khusus yang dikendalikan atau dikuasai pemerintah daerah. Jumlahnya mencapai ribuan dan secara pembukuan berdiri sendiri tetapi dianggap aman karena milik pemerintah daerah dan menguntungkan lantaran bunganya di atas deposito.

Instrumen LGFV ini selanjutnya dibeli oleh dana perwalian (trust fund) dan “dibungkus” ulang dalam berbagai bentuk supaya tidak muncul dalam laporan bank. Misalnya dalam bentuk pinjaman antarbank, pinjaman ke industri keuangan non-bank, tagihan akseptasi perbankan, reverse repo dan sebagainya.

Jadi di atas kertas, bank sewaktu membeli seperti menempatkan deposito di Trust Fund, bukan memberikan kredit ke properti yang ada batasannya. Cara lain, membungkus ulang surat pinjaman tersebut ke dalam nominal yang lebih kecil dan dijual ke asuransi, reksa dana, retail dan High Net Work dikenal dengan Wealth Management Product (WMP).

LGFV ini kemudian muncul versi swastanya juga, karena developer partikelir terus berekspansi besar-besaran. Tak pelak, perolehan dananya semakin menyebar dan membesar layaknya bola salju.

2. Muncul Setelah Pemurnian Bank Sentral China

Kemunculan praktik shadow banking di China dipicu setelah People's Bank of China (bank sentral) melepaskan fungsi-fungsi perbankan komersialnya pada 1983. Ada empat bank yang memisahkan diri dan menjadi independen tetapi masih milik negara.

Langkah itu mendorong perusahaan komersial dan investor swasta untuk menempatkan lebih banyak uang mereka pada produk keuangan, sehingga menyebabkan industri perbankan tumbuh. Praktik shadow banking sendiri pertama kali muncul pada 1990-an, namun pertumbuhan pesatnya baru terjadi pada periode 2007.

3. Penyebab Maraknya Shadow Banking

Salah satu penyebab pertumbuhan aktivitas perbankan bayangan ini adalah ketidakmampuan sistem perbankan tradisional untuk memenuhi lonjakan permintaan pendanaan, karena peraturan pinjaman yang ketat dan kurangnya pasokan kredit dari empat bank yang ada saat itu. Selain itu juga kendali pemerintah terhadap suku bunga.

Kondisi itu membuat masyarakat China beralih ke sumber-sumber pendanaan di luar perbankan atau ke praktik shadow banking lantaran prosesnya cepat dan mudah, layaknya meminjam kepada rentenir. Sekaligus menjadi sarana investasi bagi mereka yang bisa meminjamkannya dengan bunga tinggi.

Di China bank tidak dianjurkan memberikan pinjaman kepada industri tertentu dan diwajibkan menawarkan suku bunga deposito yang sangat rendah. Kebijakan itu menjadi celah bagi lembaga-lembaga nonbank untuk menerima dana dan memberikan pinjaman lewat shadow banking.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!