Waspada Pembajakan Akun Medsos Kian Marak Sejak Pandemi, Influencer Jadi Sasaran Empuk
Sabtu, 01 Agustus 2020 - 15:54 WIB
Namun demikian, menurutnya ada banyak masalah yang ditimbulkan dari transaksi online yang menggunakan medsos. Dia merujuk data dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk profil transaksi di Indonesia. Datanya menunjukan statistik di sisi pelanggan tentang keluhan bertransaksi di ecommerce. (Baca juga: Ketika Alvaro Morata dan Istri Kompak Ucapkan Ultah buat Anak Kembarnya di Medsos )
Adapun beberapa keluhan yang kerap disuarakan oleh pelanggan yang disurvei antara lain 28,2% yang menyatakan pelanggan tidak menerima barang yang dipesan atau tidak terkirim.
Kemudian, sebanyak 15,3% barang pesanan tidak sesuai dan 15,3% menyatakan bermasalah dengan sistem refund. Selain itu, 12,8% bermasalah dengan sistem platform dalam bertransaksi, lalu 12,8% terjadi penipuan dalam transaksi, serta 7,6% bermasalah dengan perihal lainnya. "Juga terdapat 2,5% yang melaporkan pembajakan account, mereka" ujarnya.
Jika melihat data dari para penjual atau seller, persentase keluhan tersebut boleh jadi datang dari beberapa seller social commerce yang akunnya dibajak.
Menurut dia, saat ini motivasi para pelaku kejahatan akan berujung kepada masalah keuangan. Seberapa besar mereka bisa mendapatkan uang dari hasil hacking-nya. "Ada banyak metode yang dilakukan oleh mereka sebelum melakukan memeras uang dari hasil bajakannya," ujarnya.
Adapun beberapa keluhan yang kerap disuarakan oleh pelanggan yang disurvei antara lain 28,2% yang menyatakan pelanggan tidak menerima barang yang dipesan atau tidak terkirim.
Kemudian, sebanyak 15,3% barang pesanan tidak sesuai dan 15,3% menyatakan bermasalah dengan sistem refund. Selain itu, 12,8% bermasalah dengan sistem platform dalam bertransaksi, lalu 12,8% terjadi penipuan dalam transaksi, serta 7,6% bermasalah dengan perihal lainnya. "Juga terdapat 2,5% yang melaporkan pembajakan account, mereka" ujarnya.
Jika melihat data dari para penjual atau seller, persentase keluhan tersebut boleh jadi datang dari beberapa seller social commerce yang akunnya dibajak.
Menurut dia, saat ini motivasi para pelaku kejahatan akan berujung kepada masalah keuangan. Seberapa besar mereka bisa mendapatkan uang dari hasil hacking-nya. "Ada banyak metode yang dilakukan oleh mereka sebelum melakukan memeras uang dari hasil bajakannya," ujarnya.
Lihat Juga :