Jeritan Hati Ibu: Sekarang Hidup Serba Tambah Susah
Jum'at, 23 Februari 2024 - 17:20 WIB
Naiknya harga beras yang diikuti bahan pangan pokok lainnya membuat Eni harus mengurangi porsi makan untuk keluarga, hal itu menjadi siasat agar tidak setiap saat membeli bahan pokok yang saat ini harganya tengah mengalami kenaikan.
"Sedikit saja belanja, tidak usah stok lah, 3 hari beli lagi, tidak usah tiap hari (belanja).Saya berharap kepada Pemerintah harga diturunin lah," sambungnya.
Salah seorang pedagang warung makan di Pasar Kramat, Maya (49) juga berpendapat yang tidak jauh berbeda dengan Eni dalam mensiasati naiknya harga bahan pangan yang saat ini tengah terjadi di pasaran. Maya yang sehari hari menggunakan cabai sebagai pelengkap masakan itu kini harus menghadapi pedasnya harga cabai.
Alih-alih menaikan harga barang dagangannya di tengah lonjakan harga bapok, Maya justru menyiasatinya dengan mengurangi porsi makan para pelanggan. Tidak jarang, maya juga terpaksa bersikap bohong kepada pelanggan jika hendak meminta lebih banyak sambal atau cabai.
"Kita kayak orang lagi pelit aja,pura pura cabai habis, padahal mah ada, cuma ya kita kurangin aja, biasa sehari habis sekilo sekarang dikurangi pakai cabainya," kata Maya.
Maya justru lebih khawatir ketika barang dagangannya dinaikan untuk menyikapi tingginya harga bapok itu bisa membuat pelanggannya kabur mencari warung makan lain yang punya harga lebih murah. Sehingga bertahan menjadi satu-satunya Maya demi survive di tengah lonjakan harga pangan saat ini.
"Sedikit saja belanja, tidak usah stok lah, 3 hari beli lagi, tidak usah tiap hari (belanja).Saya berharap kepada Pemerintah harga diturunin lah," sambungnya.
Salah seorang pedagang warung makan di Pasar Kramat, Maya (49) juga berpendapat yang tidak jauh berbeda dengan Eni dalam mensiasati naiknya harga bahan pangan yang saat ini tengah terjadi di pasaran. Maya yang sehari hari menggunakan cabai sebagai pelengkap masakan itu kini harus menghadapi pedasnya harga cabai.
Alih-alih menaikan harga barang dagangannya di tengah lonjakan harga bapok, Maya justru menyiasatinya dengan mengurangi porsi makan para pelanggan. Tidak jarang, maya juga terpaksa bersikap bohong kepada pelanggan jika hendak meminta lebih banyak sambal atau cabai.
"Kita kayak orang lagi pelit aja,pura pura cabai habis, padahal mah ada, cuma ya kita kurangin aja, biasa sehari habis sekilo sekarang dikurangi pakai cabainya," kata Maya.
Maya justru lebih khawatir ketika barang dagangannya dinaikan untuk menyikapi tingginya harga bapok itu bisa membuat pelanggannya kabur mencari warung makan lain yang punya harga lebih murah. Sehingga bertahan menjadi satu-satunya Maya demi survive di tengah lonjakan harga pangan saat ini.
Lihat Juga :