Ekonomi Global Diramal Stagnan, Sri Mulyani Cs Waswas
Jum'at, 03 Mei 2024 - 17:55 WIB
Menteri Keuangan/Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Sri Mulyani Indrawati. FOTO/Ist
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memproyeksikan ekonomi global stagnan tahun ini. Prediksi tersebut didasarkan pada berbagai risiko dan tantangan yang berkembang.
"Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan relatif stagnan dengan berbagai risiko dan tantangan yang berkembang," ujar Sri Mulyani dalam Konferensi Pers KSSK II-2024, Jumat (3/5/2024).
Berdasarkan laporan World Economic Outlook edisi April 2024, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2024 stagnan di level 3,2% secara tahunan (year on year/yoy). Adapun perekonomian Amerika Serikat (AS) tumbuh 2,5% yoy seiring permintaan domestik dan aktivitas manufaktur yang ekspansif. Namun membaiknya ekonomi AS dibarengi dengan inflasi yang masih tinggi telah mendorong potensi penundaan pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed.
"Ini artinya higher for longer terjadi di Amerika Serikat," ungkapnya.
Baca Juga: Kabar Buruk, Ekonomi Global Bakal Stagnan Tahun Ini
Menurut dia kebijakan monetar Amerika Serikat yang cenderung mempertahankan suku bunga lebih tinggi dam lebih lama dan penundaan pemangkasan suku bunga serta tingginya yield dari US Treasury telah menyebabkan terjadinya arus modal portfolio keluar dari negara-negara berkembang dan emerging pindah ke Amerika Serikat.
"Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan relatif stagnan dengan berbagai risiko dan tantangan yang berkembang," ujar Sri Mulyani dalam Konferensi Pers KSSK II-2024, Jumat (3/5/2024).
Berdasarkan laporan World Economic Outlook edisi April 2024, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2024 stagnan di level 3,2% secara tahunan (year on year/yoy). Adapun perekonomian Amerika Serikat (AS) tumbuh 2,5% yoy seiring permintaan domestik dan aktivitas manufaktur yang ekspansif. Namun membaiknya ekonomi AS dibarengi dengan inflasi yang masih tinggi telah mendorong potensi penundaan pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed.
"Ini artinya higher for longer terjadi di Amerika Serikat," ungkapnya.
Baca Juga: Kabar Buruk, Ekonomi Global Bakal Stagnan Tahun Ini
Menurut dia kebijakan monetar Amerika Serikat yang cenderung mempertahankan suku bunga lebih tinggi dam lebih lama dan penundaan pemangkasan suku bunga serta tingginya yield dari US Treasury telah menyebabkan terjadinya arus modal portfolio keluar dari negara-negara berkembang dan emerging pindah ke Amerika Serikat.
Lihat Juga :