Ledakan Utang Global ke Rekor Tertinggi Mengancam Ekonomi Dunia
Selasa, 14 Mei 2024 - 06:21 WIB
Dana Moneter Internasional (IMF) juga telah memperingatkan bahwa tumpukan utang India dapat melebihi ukuran ekonominya pada akhir dekade ini usai menghabiskan miliaran pound setiap tahun untuk menangani bencana alam.
Sementara itu analisis IIF menunjukkan total utang dunia naik USD1,3 triliun ke rekor tertinggi terbaru yakni menyentuh USD315 triliun dalam tiga bulan pertama di 2024. Nilai utang global terhadap PDB terus meningkat, setelah kebijakan Lockdown akibat Covid-19.
IIF menambahkan, bahwa peningkatan utang pemerintah juga terjadi di antara negara-negara maju dalam tiga bulan pertama tahun 2024 karena inflasi AS mengancam kelanjutan suku bunga tinggi bisa lebih lama.
"Mengingat inflasi AS dan penundaan yang terjadi usai munculnya harapan penurunan suku bunga Federal Reserve, reli dolar ... sekali lagi dapat membawa tekanan utang pemerintah ke permukaan, terutama untuk negara-negara berkembang," kata IIF dalam monitor utang terbarunya.
Kondisi ini memperingatkan bahwa Presiden AS Joe Biden sedangnmemimpin tumpukan utang yang terus meningkat, bahkan ketika rumah tangga di ekonomi terbesar di dunia membayar kembali uang yang terutang pada pinjaman pribadi dan kartu kredit.
"Sementara itu kesehatan neraca rumah tangga harus memberikan bantalan terhadap tingkat yang lebih tinggi untuk suku bunga yang lebih lama dalam waktu dekat, defisit anggaran pemerintah masih lebih tinggi dari tingkat pra-pandemi dan diproyeksikan berkontribusi sekitar USD5,3 triliun untuk akumulasi utang global tahun ini," katanya.
Sementara itu analisis IIF menunjukkan total utang dunia naik USD1,3 triliun ke rekor tertinggi terbaru yakni menyentuh USD315 triliun dalam tiga bulan pertama di 2024. Nilai utang global terhadap PDB terus meningkat, setelah kebijakan Lockdown akibat Covid-19.
IIF menambahkan, bahwa peningkatan utang pemerintah juga terjadi di antara negara-negara maju dalam tiga bulan pertama tahun 2024 karena inflasi AS mengancam kelanjutan suku bunga tinggi bisa lebih lama.
"Mengingat inflasi AS dan penundaan yang terjadi usai munculnya harapan penurunan suku bunga Federal Reserve, reli dolar ... sekali lagi dapat membawa tekanan utang pemerintah ke permukaan, terutama untuk negara-negara berkembang," kata IIF dalam monitor utang terbarunya.
Kondisi ini memperingatkan bahwa Presiden AS Joe Biden sedangnmemimpin tumpukan utang yang terus meningkat, bahkan ketika rumah tangga di ekonomi terbesar di dunia membayar kembali uang yang terutang pada pinjaman pribadi dan kartu kredit.
"Sementara itu kesehatan neraca rumah tangga harus memberikan bantalan terhadap tingkat yang lebih tinggi untuk suku bunga yang lebih lama dalam waktu dekat, defisit anggaran pemerintah masih lebih tinggi dari tingkat pra-pandemi dan diproyeksikan berkontribusi sekitar USD5,3 triliun untuk akumulasi utang global tahun ini," katanya.
Lihat Juga :