Rupiah Ditutup Menguat Sore Ini, Tekuk Dolar ke Rp15.923

Kamis, 16 Mei 2024 - 16:04 WIB
Hal ini menyebabkan para pedagang meningkatkan ekspektasi mereka terhadap penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September, yang kemungkinannya meningkat menjadi hampir 54% dari 49% pada minggu lalu, menurut alat CME Fedwatch. Namun, angka CPI masih jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2%, sementara sejumlah pejabat The Fed juga memperingatkan selama seminggu terakhir bahwa bank sentral perlu lebih diyakinkan bahwa inflasi sedang turun.

Selain itu, Tiongkok terpukul oleh Washington yang mengenakan tarif perdagangan yang lebih ketat pada industri-industri utama Tiongkok, seperti kendaraan listrik, obat-obatan, dan teknologi tenaga surya. Beijing mengancam akan membalas tindakan tersebut. Walaupun perang dagang kembali memanas, namun pasar optimis atas stimulus fiskal yang lebih besar di Tiongkok, serta meningkatnya dukungan terhadap pasar properti.

Beijing mengatakan akan memulai penerbitan obligasi besar-besaran senilai 1 triliun yuan (USD138 miliar) pada minggu ini, sementara beberapa kota besar juga melonggarkan pembatasan pembelian rumah untuk mendukung pasar properti. Data produksi industri dan penjualan ritel Tiongkok, yang akan dirilis pada hari Jumat, kini ditunggu sebagai petunjuk lebih lanjut mengenai importir tembaga terbesar di dunia tersebut.

Dari sentimen domestik, Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan I 2024 menurun. Posisi ULN Indonesia pada triwulan I 2024 tercatat sebesar USD403,9 miliar atau setara Rp6.489 triliun (asumsi kurs Rp16.070 per dolar AS), turun dibandingkan dengan posisi ULN pada triwulan IV 2023 yang sebesar USD408,5 miliar atau Rp6.563 triliun.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.100, Menanti Data Infasi AS
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!