Tak Ada Faedah, GINSI Tolak Biaya Survei Peti Kemas di Depo Empty
Minggu, 23 Agustus 2020 - 10:18 WIB
GINSI menolak rencana operator depo empty yang tergabung dalam Asdeki untuk melakukan survei berbiaya yang akan di bebankan kepada pemilik barang. Foto/Ilustrasi
JAKARTA - Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) menilai kegiatan survei peti kemas di depo empty yang biayanya dibebankan kepada importir di pelabuhan atau pemilik barang merupakan malpraktik bisnis logistik yang mesti dihentikan.
Selain itu, GINSI meminta tarif container freigh station (CFS) di kawasan lini 2 pelabuhan Tanjung Priok juga perlu ditertibkan karena cenderung menerapkan tarif semaunya dan tanpa kontrol.
Wakil Ketua Umum bidang Logistik BPP GINSI Erwin Taufan mengatakan, pihaknya menerima aduan dari para importir berkaitan dengan rencana operator depo empty yang tergabung dalam Asdeki untuk melakukan survei berbiaya yang akan di bebankan kepada pemilik barang.
(Baca Juga: Mesin Industri Logistik Mati 90%, Panasinnya Lama Jika PSBB Lagi)
Padahal, imbuhnya, kegiatan tersebut tanpa memberikan manfaat buat importir, sehingga hal ini semakin memperlihatkan bahwa pengelola depo empty semakin semaunya dalam berkegiatan bisnisnya.
"Kami melihat survei seperti itu tidak ada manfaatnya bagi pemilik barang, apalagi jika berbayar. Sebaiknya Asdeki fokus beresin tarif layanan lift on-lift off (LoLo) di depo yang tinggi dan cenderung sesukanya lantaran tidak ada keseragaman tarif layanan itu di depo empty, bahkan ada yang tarifnya sampai Rp 600.000 per kontainer kosong ukuran 20 feet," ujar Taufan kepada wartawan, Sabtu (22/8/2020).
Selain itu, GINSI meminta tarif container freigh station (CFS) di kawasan lini 2 pelabuhan Tanjung Priok juga perlu ditertibkan karena cenderung menerapkan tarif semaunya dan tanpa kontrol.
Wakil Ketua Umum bidang Logistik BPP GINSI Erwin Taufan mengatakan, pihaknya menerima aduan dari para importir berkaitan dengan rencana operator depo empty yang tergabung dalam Asdeki untuk melakukan survei berbiaya yang akan di bebankan kepada pemilik barang.
(Baca Juga: Mesin Industri Logistik Mati 90%, Panasinnya Lama Jika PSBB Lagi)
Padahal, imbuhnya, kegiatan tersebut tanpa memberikan manfaat buat importir, sehingga hal ini semakin memperlihatkan bahwa pengelola depo empty semakin semaunya dalam berkegiatan bisnisnya.
"Kami melihat survei seperti itu tidak ada manfaatnya bagi pemilik barang, apalagi jika berbayar. Sebaiknya Asdeki fokus beresin tarif layanan lift on-lift off (LoLo) di depo yang tinggi dan cenderung sesukanya lantaran tidak ada keseragaman tarif layanan itu di depo empty, bahkan ada yang tarifnya sampai Rp 600.000 per kontainer kosong ukuran 20 feet," ujar Taufan kepada wartawan, Sabtu (22/8/2020).
Lihat Juga :