Ekonomi Suriah Babak Belur di Bawah Rezim Bashar al-Assad, Ini Faktanya

Jum'at, 13 Desember 2024 - 19:59 WIB
Suriah, yang dulunya merupakan eksportir minyak terbesar di Mediterania Timur, telah berubah menjadi importir minyak karena penurunan produksi yang tajam. Impor minyak Suriah, terutama dari Iran, meningkat hampir dua kali lipat dari tahun 2020 hingga 2023, dan sekarang impor mencapai hampir setengah dari produksi minyak domestik.

2. Produksi Pertanian Menurun

Penurunan ekonomi Suriah juga tercermin dalam bidang pertanian, karena lahan pertanian berkurang 25% dibandingkan dengan era sebelum perang saudara.

Ekspor Suriah turun 89% menjadi kurang dari $1 miliar dibandingkan dengan awal perang saudara, dan impor turun 81% menjadi USD3,2 miliar.

Bank Dunia mengatakan bahwa akses para petani terhadap benih, pupuk, bahan bakar, dan suku cadang mesin, yang dibutuhkan untuk bercocok tanam, menjadi semakin sulit, yang mengakibatkan berkurangnya produksi pertanian.

Sementara itu, mata uang pound Suriah terdepresiasi terhadap dolar sebanyak 270 kali dalam kurun waktu 2011-2023, yang semakin memicu inflasi. Pendapatan fiskal rezim Assad turun 35% dari tahun ke tahun secara riil pada tahun 2023 dan 85% sejak tingkat pra-konflik pada tahun 2010.

Rezim Assad memutuskan untuk mengurangi pengeluarannya sebesar 87% pada 2023 dibandingkan tahun 2010 untuk menyeimbangkan anggaran. Rezim ini juga mengesahkan undang-undang untuk penghematan anggaran kepada rakyat, memperketat program subsidi pemerintah, mengurangi porsi subsidi dalam anggaran negara dari 42% menjadi 19% secara tahunan pada tahun 2023, yang menyebabkan kenaikan harga gas, minyak, dan obat-obatan bersubsidi pada Agustus 2023.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!