Tren #KaburAjaDulu Bikin Heboh, Pengusaha Angkat Bicara
Senin, 24 Februari 2025 - 22:49 WIB
Lapangan kerja terbatas dan biaya hidup tinggi tentu banyak anak muda lebih memilih mencari peluang di luar negeri. Kondisi itu juga masih ditambah dengan beberapa fakta ekonomi dan pendidikan yang tidak berpihak pada masa depan generasi muda.
“Hal ini tentu memunculkan ketidakadilan hukum, faktor ekonomi dan pendidikan sehingga menjadi pendorong utama munculnya fenomena yang banyak muncul dan jadi pendorong,” papar Gema.
Sebagai seorang pebinis, dirinya kerap melihat beberapa fenomena yang muncul antara lain, gaji kecil, biaya hidup tinggi sehingga banyak anak muda yang sulit mendapatkan pekerjaan dengan upah layak, sementara harga kebutuhan pokok terus melonjak.
Selanjutnya lapangan kerja terbatas dan UMKM kesulitan berkembang akibat pajak tinggi dan regulasi yang tidak mendukung. Berikutnya, sistem pendidikan yang tidak relevan. Pendidikan di Indonesia masih berfokus pada hafalan, bukan keterampilan. Lulusan universitas pun banyak yang tidak siap masuk ke dunia kerja.
“Saya sebagai pelaku bisnis sering melihat minimnya kesiapan tenaga kerja. Contohnya dari 60.000 pelamar kerja yang masuk ke Astronacci Group setiap bulannya, hanya kurang dari 2% yang memenuhi standar mulai dari bahasa, etos kerja, pengalaman dan lainnya. Ini tentu harus dilihat dari awal jenjang pendidikan yang menjadi jembatan memasuki dunia kerja," katanya.
Gema juga memberikan kritik tajam kepada Gen Z yang cenderung ingin hasil instan tanpa mau berproses untuk meraih kesuksesan. Adanya perasaan kurang semangat belajar dan bekerja keras dalam meraih cita-cita.
Kondisi ini diperparah dengan cepat menyerah saat menghadapi tekanan di tempat kerja. Belum lagi pola kerja tidak konsisten, sering berpindah pekerjaan demi gengsi.
“Yang saya dan banyak pebisnis heran, mereka pencari kerja, khususnya dari Gen Z, berekspektasi tinggi terhadap gaji tapi minim ketrampilan. Ada juga yang minta work-life balance tapi tidak mau meningkatkan kemampuan. Kalau tidak punya keterampilan, mau kabur ke mana saja tetap gagal,” tegasnya.
“Hal ini tentu memunculkan ketidakadilan hukum, faktor ekonomi dan pendidikan sehingga menjadi pendorong utama munculnya fenomena yang banyak muncul dan jadi pendorong,” papar Gema.
Sebagai seorang pebinis, dirinya kerap melihat beberapa fenomena yang muncul antara lain, gaji kecil, biaya hidup tinggi sehingga banyak anak muda yang sulit mendapatkan pekerjaan dengan upah layak, sementara harga kebutuhan pokok terus melonjak.
Selanjutnya lapangan kerja terbatas dan UMKM kesulitan berkembang akibat pajak tinggi dan regulasi yang tidak mendukung. Berikutnya, sistem pendidikan yang tidak relevan. Pendidikan di Indonesia masih berfokus pada hafalan, bukan keterampilan. Lulusan universitas pun banyak yang tidak siap masuk ke dunia kerja.
“Saya sebagai pelaku bisnis sering melihat minimnya kesiapan tenaga kerja. Contohnya dari 60.000 pelamar kerja yang masuk ke Astronacci Group setiap bulannya, hanya kurang dari 2% yang memenuhi standar mulai dari bahasa, etos kerja, pengalaman dan lainnya. Ini tentu harus dilihat dari awal jenjang pendidikan yang menjadi jembatan memasuki dunia kerja," katanya.
Gema juga memberikan kritik tajam kepada Gen Z yang cenderung ingin hasil instan tanpa mau berproses untuk meraih kesuksesan. Adanya perasaan kurang semangat belajar dan bekerja keras dalam meraih cita-cita.
Kondisi ini diperparah dengan cepat menyerah saat menghadapi tekanan di tempat kerja. Belum lagi pola kerja tidak konsisten, sering berpindah pekerjaan demi gengsi.
“Yang saya dan banyak pebisnis heran, mereka pencari kerja, khususnya dari Gen Z, berekspektasi tinggi terhadap gaji tapi minim ketrampilan. Ada juga yang minta work-life balance tapi tidak mau meningkatkan kemampuan. Kalau tidak punya keterampilan, mau kabur ke mana saja tetap gagal,” tegasnya.
Lihat Juga :