Bank Dunia Membunyikan Alarm Soal Jeratan Utang di Negara Berkembang, Termasuk RI?

Senin, 28 April 2025 - 08:29 WIB
"Jika pertumbuhan global melambat, perdagangan melambat, lebih banyak negara dan suku bunga tetap tinggi, maka Anda akan membuat banyak negara ini mengalami kesulitan utang, termasuk beberapa yang merupakan eksportir komoditas," katanya.

Pembayaran bunga bersih sebagai bagian dari produk domestik bruto - ukuran berapa banyak yang dibelanjakan negara untuk membayar utang mereka - sekarang mencapai 12% untuk pasar negara berkembang, dibandingkan dengan 7% pada 2014, kembali ke level yang terakhir terlihat pada 1990-an.

Suku bunga bahkan lebih tinggi untuk negara-negara miskin, di mana biaya pembayaran utang memakan 20% dari PDB saat ini, dibandingkan dengan 10% satu dekade lalu.

"Hal ini berarti negara-negara menghabiskan lebih sedikit untuk pendidikan, perawatan kesehatan dan program lain yang dapat meningkatkan pembangunan, katanya.

Baca Juga: Bagaimana BRICS akan Memengaruhi Negara-Negara Berkembang?

Suku bunga diprediksi juga tetap tinggi, mengingat meningkatnya ekspektasi inflasi, yang berarti utang negara-negara dapat naik lebih lanjut jika mereka perlu menggulirkan utang yang ada, kata Gill.

Saran Gill kepada negara-negara berkembang adalah dengan cepat dan segera menegosiasikan perjanjian dengan AS untuk menurunkan tarif mereka sendiri dan mencegah tarif AS lebih tinggi, dan memperluas tarif yang lebih rendah ke negara lain.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!