Rangkul Keberagaman, Kementan Gelar Grand Final YAA 2025

Rabu, 30 April 2025 - 17:26 WIB
Sejak mendapatkan hibah dari Program YESS pada 2023 berupa bibit pepaya Hawai, uang tunai, dan obat-obatan, usaha Rahmadi berkembang pesat. Ia membentuk kelompok tani beranggotakan 30 orang untuk mempermudah akses pupuk bersubsidi. “Sekarang banyak yang ikut-ikut. Kalau mau ditambah, bisa sampai ratusan yang ingin bergabung,” tuturnya.

Rahmadi juga aktif mendorong teman-teman disabilitas agar percaya diri dan bergabung dengan Program YESS. “Harapan saya, teman-teman disabilitas tetap semangat. Jangan sampai kita menadahkan tangan, walau keadaan kita seperti ini,” pesannya.

Semangat serupa juga datang dari Anggi Apriningsih (27), petani milenial asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang membudidayakan jamur tiram dari hulu ke hilir. Ia mengaku proses pendaftaran YAA 2025 sangat mudah berkat dukungan panitia yang selalu siap memberikan arahan. “Harapan saya bisa menjalin relasi, karena dalam bisnis, relasi itu penting,” kata Anggi.

Brigita Debora Hisage, perwakilan dari Papua, mengaku bangga atas proses seleksi yang dilakukan secara transparan dan adil. “Tidak ada pembeda dari timur sampai barat,” ujarnya.

Brigita yang menjalankan usaha ayam petelur dan hortikultura berharap dapat mewakili Papua dalam mengembangkan sektor pertanian. “Semoga saya bisa menginspirasi teman-teman muda Papua untuk mencintai pertanian. Karena pertanian itu keren,” katanya penuh semangat.

Kisah perjuangan para finalis Young Ambassador Agriculture (YAA) 2025 terukir sejak awal Maret. Dibuka dengan pendaftaran daring yang menarik 615 orang pendaftar, seleksi demi seleksi dilalui dengan gigih. Hingga akhirnya, 50 nama terbaik berkompetisi membuktikan diri di Grand Final untuk menjadi Young Ambassador Agriculture.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!