MMS Group Berdayakan Masyarakat Adat Lewat Rumah Cokelat Lung Anai
Jum'at, 09 Mei 2025 - 18:04 WIB
MMS Group menunjukkan komitmennya dalam memberdayakan masyarakat adat melalui inisiatif Rumah Cokelat Lung Anai. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA - PT MMS Group Indonesia (MMS Group) menunjukkan komitmennya dalam memberdayakan masyarakat adat melalui inisiatif Rumah Cokelat Lung Anai. Program ini berfokus pada pemberdayaan perempuan melalui pengolahan cokelat berbasis komunitas di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Rumah Cokelat Lung Anai diinisiasi anak usaha MMSGI, PT Multi Harapan Utama (MHU) berkolaborasi dengan Kelompok Tani Lalut Isau, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan Dinas Perkebunan Kutai Kartanegara. MHU juga melibatkan Yayasan Peduli Desa Nusantara Madani dan Fakultas Pertanian Universitas Kutai Kartanegara untuk memberikan pendampingan dan pelatihan kepada masyarakat dalam pengolahan kakao menjadi cokelat kemasan.
Saat ini, Rumah Cokelat Lung Anai memiliki perkebunan kakao yang dikelola oleh sekitar 50 anggota petani dengan total lahan sekitar 100 hektare. Rata-rata, seorang petani mampu mengelola dua hektare lahan dan menghasilkan sekitar Rp30.000 per kilogram (kg) biji kakao mentah.
Biji kakao lokal diolah menjadi produk bernilai tambah, mulai dari cokelat batangan hingga bubuk kakao. Selain itu, Rumah Cokelat Lung Anai juga berfungsi sebagai pusat pelatihan teknik budidaya dan pengolahan, serta destinasi agrowisata bagi wisatawan.
Rumah Cokelat Lung Anai diinisiasi anak usaha MMSGI, PT Multi Harapan Utama (MHU) berkolaborasi dengan Kelompok Tani Lalut Isau, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan Dinas Perkebunan Kutai Kartanegara. MHU juga melibatkan Yayasan Peduli Desa Nusantara Madani dan Fakultas Pertanian Universitas Kutai Kartanegara untuk memberikan pendampingan dan pelatihan kepada masyarakat dalam pengolahan kakao menjadi cokelat kemasan.
Saat ini, Rumah Cokelat Lung Anai memiliki perkebunan kakao yang dikelola oleh sekitar 50 anggota petani dengan total lahan sekitar 100 hektare. Rata-rata, seorang petani mampu mengelola dua hektare lahan dan menghasilkan sekitar Rp30.000 per kilogram (kg) biji kakao mentah.
Biji kakao lokal diolah menjadi produk bernilai tambah, mulai dari cokelat batangan hingga bubuk kakao. Selain itu, Rumah Cokelat Lung Anai juga berfungsi sebagai pusat pelatihan teknik budidaya dan pengolahan, serta destinasi agrowisata bagi wisatawan.
Lihat Juga :