Ramalan OECD Soal Kejatuhan Ekonomi Besar Dunia, Siapa Saja?
Kamis, 05 Juni 2025 - 15:17 WIB
Sejak kembali ke Gedung Putih untuk kedua kalinya pada bulan Januari, Presiden AS Donald Trump telah memberlakukan tarif besar-besaran yang bertujuan untuk melindungi manufaktur domestik. Kampanye ini mencapai puncaknya pada 2 April dengan langkah-langkah yang disebut sebagai "Hari Pembebasan".
Termasuk di dalamnya adalah pajak 10% secara keseluruhan pada semua barang impor, sedangkan untuk barang dari China, Meksiko, Kanada, dan negara-negara anggota UE (Uni Eropa) mendapatkan tarif lebih tinggi dengan alasan adanya ketidakseimbangan perdagangan.
Beberapa bea masuk tersebut telah dihentikan sementara untuk memberikan waktu buat negosiasi. Sementara itu Trump memberikan pembelaan bahwa strategi ini sebagai cara untuk mengembalikan lapangan pekerjaan ke AS dan mengurangi defisit perdagangan negara tersebut.
OECD memproyeksikan inflasi AS bakal meningkat hampir 4% di akhir 2025 dan tetap melampaui target 2% Federal Reserve hingga 2026 – dengan kemungkinan adanya penundaan pemotongan suku bunga hingga tahun depan. Ini juga menyoroti penyusutan dalam pertumbuhan PDB riil di tengah meningkatnya ekspektasi inflasi.
Kepala ekonom OECD, Alvaro Pereira memberikan desakan kepada pemerintah untuk mencapai kesepakatan guna mengurangi hambatan perdagangan, mengingat konsekuensi serius jika mereka gagal. "Jika tidak, dampak pertumbuhannya akan cukup signifikan," katanya.
Termasuk di dalamnya adalah pajak 10% secara keseluruhan pada semua barang impor, sedangkan untuk barang dari China, Meksiko, Kanada, dan negara-negara anggota UE (Uni Eropa) mendapatkan tarif lebih tinggi dengan alasan adanya ketidakseimbangan perdagangan.
Beberapa bea masuk tersebut telah dihentikan sementara untuk memberikan waktu buat negosiasi. Sementara itu Trump memberikan pembelaan bahwa strategi ini sebagai cara untuk mengembalikan lapangan pekerjaan ke AS dan mengurangi defisit perdagangan negara tersebut.
OECD memproyeksikan inflasi AS bakal meningkat hampir 4% di akhir 2025 dan tetap melampaui target 2% Federal Reserve hingga 2026 – dengan kemungkinan adanya penundaan pemotongan suku bunga hingga tahun depan. Ini juga menyoroti penyusutan dalam pertumbuhan PDB riil di tengah meningkatnya ekspektasi inflasi.
Kepala ekonom OECD, Alvaro Pereira memberikan desakan kepada pemerintah untuk mencapai kesepakatan guna mengurangi hambatan perdagangan, mengingat konsekuensi serius jika mereka gagal. "Jika tidak, dampak pertumbuhannya akan cukup signifikan," katanya.
Lihat Juga :