AS Gabung Israel Serang Iran, Siap-siap Harga Minyak Mendidih Tembus USD100 per Barel
Minggu, 22 Juni 2025 - 11:48 WIB
Pasar sempat teredam oleh ekspektasi bahwa lonjakan harga tidak akan bertahan lama, mengingat permintaan global yang belum sepenuhnya pulih dan pasokan minyak dari OPEC+ masih melimpah. Kartel minyak tersebut bahkan dijadwalkan akan kembali menggelar pertemuan pada 5 Juli untuk membahas rencana kenaikan produksi pada Agustus mendatang, setelah menaikkan pasokan 4,11 juta barel per hari pada Juni dan Juli.
"Banyak yang bergantung pada bagaimana Iran merespons dalam beberapa jam dan hari ke depan. Jika Iran bertindak sesuai ancaman mereka sebelumnya, bukan tidak mungkin harga minyak bisa menyentuh USD 100 per barel," ujar analis energi MST Marquee, Saul Kavonic, dikutip dari CNBC TV, Minggu (22/6).
Lonjakan harga minyak mentah menjadi ancaman serius bagi sektor industri di berbagai negara, termasuk India. Perusahaan pemasaran minyak seperti HPCL, BPCL, Indian Oil, serta industri cat, ban, dan penerbangan, yang sangat bergantung pada minyak mentah sebagai bahan baku diperkirakan akan terkena dampak langsung.
Menurut Santanu Sengupta dari Goldman Sachs, jika harga minyak mencapai USD 75 per barel, hal ini akan memberi tekanan besar pada ekonomi makro. Kenaikan harga sebesar USD 10 per barel disebut-sebut bisa menambah beban biaya hingga 30-40 basis poin.
Selain itu, beban fiskal India juga berisiko meningkat. Meski demikian, menurut Samiran Chakraborty, Kepala Ekonom India di Citi, dampaknya masih bisa dikelola. Ia menambahkan, dibandingkan Rusia, ekspor minyak Iran ke dunia masih tergolong kecil, sehingga India memiliki ruang untuk menyerap tekanan harga.
"Banyak yang bergantung pada bagaimana Iran merespons dalam beberapa jam dan hari ke depan. Jika Iran bertindak sesuai ancaman mereka sebelumnya, bukan tidak mungkin harga minyak bisa menyentuh USD 100 per barel," ujar analis energi MST Marquee, Saul Kavonic, dikutip dari CNBC TV, Minggu (22/6).
Lonjakan harga minyak mentah menjadi ancaman serius bagi sektor industri di berbagai negara, termasuk India. Perusahaan pemasaran minyak seperti HPCL, BPCL, Indian Oil, serta industri cat, ban, dan penerbangan, yang sangat bergantung pada minyak mentah sebagai bahan baku diperkirakan akan terkena dampak langsung.
Menurut Santanu Sengupta dari Goldman Sachs, jika harga minyak mencapai USD 75 per barel, hal ini akan memberi tekanan besar pada ekonomi makro. Kenaikan harga sebesar USD 10 per barel disebut-sebut bisa menambah beban biaya hingga 30-40 basis poin.
Selain itu, beban fiskal India juga berisiko meningkat. Meski demikian, menurut Samiran Chakraborty, Kepala Ekonom India di Citi, dampaknya masih bisa dikelola. Ia menambahkan, dibandingkan Rusia, ekspor minyak Iran ke dunia masih tergolong kecil, sehingga India memiliki ruang untuk menyerap tekanan harga.
Lihat Juga :