Krisis Utang Hantam Afrika, Ketua G20 Menyerukan Aksi Global
Jum'at, 11 Juli 2025 - 07:28 WIB
Mengutip Komisi Jubilee oleh mendiang Paus Fransiskus, Ramaphosa mengatakan: "Beberapa negara telah gagal membayar utang mereka, mereka juga gagal memenuhi kebutuhan rakyat mereka, lingkungan, dan masa depan mereka."
Ditegaskan olehnya bahwa utang, jika digunakan dengan bijak, dapat menjadi alat untuk pembangunan. Akan tetapi guncangan dari luar, seperti pandemi COVID-19 dan konflik global, telah menjadikannya semakin mahal.
"Utang dapat menjadi alat untuk pembangunan, jika semua itu terjangkau dan dibelanjakan secara efisien untuk infrastruktur dan investasi lain yang mendukung pertumbuhan. Namun serangkaian guncangan eksternal – termasuk pandemi COVID-19, efek destabilisasi dari berbagai konflik di seluruh dunia, dan kondisi pembiayaan yang semakin ketat – telah menyebabkan biaya utang meningkat dengan cepat bagi banyak ekonomi berkembang," kata Ramaphosa.
Untuk mengatasi hal ini, Afrika Selatan telah mengambil langkah konkret di bawah Kepresidenan G20-nya, termasuk pembentukan Panel Pakar Afrika yang dipimpin oleh mantan Menteri Keuangan Trevor Manuel. Panel ini ditugaskan untuk mengembangkan rekomendasi yang dapat dilakukan untuk keberlanjutan utang.
"Sejak saat ini kami fokus pada solusi praktis untuk mencapai keberlanjutan utang, seperti meningkatkan Kerangka Umum G20 untuk penanganan utang agar memungkinkan restrukturisasi utang yang tepat waktu dan memadai,” kata Ramaphosa.
Dia juga menyoroti pentingnya mekanisme keuangan yang inovatif, termasuk klausul utang yang tahan iklim yang dapat secara otomatis menangguhkan pembayaran pada saat bencana lingkungan. Ramaphosa mengatakan, bahwa harus memastikan intervensi tepat waktu dan bantuan yang memadai bagi negara-negara yang menghadapi tantangan likuiditas.
Ditegaskan olehnya bahwa utang, jika digunakan dengan bijak, dapat menjadi alat untuk pembangunan. Akan tetapi guncangan dari luar, seperti pandemi COVID-19 dan konflik global, telah menjadikannya semakin mahal.
"Utang dapat menjadi alat untuk pembangunan, jika semua itu terjangkau dan dibelanjakan secara efisien untuk infrastruktur dan investasi lain yang mendukung pertumbuhan. Namun serangkaian guncangan eksternal – termasuk pandemi COVID-19, efek destabilisasi dari berbagai konflik di seluruh dunia, dan kondisi pembiayaan yang semakin ketat – telah menyebabkan biaya utang meningkat dengan cepat bagi banyak ekonomi berkembang," kata Ramaphosa.
Untuk mengatasi hal ini, Afrika Selatan telah mengambil langkah konkret di bawah Kepresidenan G20-nya, termasuk pembentukan Panel Pakar Afrika yang dipimpin oleh mantan Menteri Keuangan Trevor Manuel. Panel ini ditugaskan untuk mengembangkan rekomendasi yang dapat dilakukan untuk keberlanjutan utang.
"Sejak saat ini kami fokus pada solusi praktis untuk mencapai keberlanjutan utang, seperti meningkatkan Kerangka Umum G20 untuk penanganan utang agar memungkinkan restrukturisasi utang yang tepat waktu dan memadai,” kata Ramaphosa.
Dia juga menyoroti pentingnya mekanisme keuangan yang inovatif, termasuk klausul utang yang tahan iklim yang dapat secara otomatis menangguhkan pembayaran pada saat bencana lingkungan. Ramaphosa mengatakan, bahwa harus memastikan intervensi tepat waktu dan bantuan yang memadai bagi negara-negara yang menghadapi tantangan likuiditas.
Lihat Juga :