Mendefinisikan Ulang Ketangguhan dan Kepastian dalam Perjalanan

Selasa, 29 Juli 2025 - 22:31 WIB
Kebutuhan akan fleksibilitas layanan perjalanan kini meluas, tidak hanya untuk situasi darurat, tetapi juga karena urusan pribadi wisatawan. Foto/Dok
JAKARTA - Dalam 14 tahun terakhir, industri perjalanan telah berevolusi dengan sangat pesat. Dahulu, tantangan utama adalah soal aksesibilitas di mana masyarakat harus menghabiskan waktu dan tenaga lebih demi merencanakan perjalanan. Kini dengan kemajuan teknologi, seluruh proses dari pencarian hingga pemesanan bisa dilakukan dalam hitungan menit, langsung dari genggaman tangan.

Namun di balik kemudahan perencanaan itu, muncul tantangan baru: ketidakpastian dalam perjalanan. Disrupsi seperti bencana alam, kendala operasional, hingga situasi geopolitik membuat rencana perjalanan, betapapun rapi disusun, bisa terganggu kapan saja.



Data global mencatat bahwa 2 dari 5 penerbangan mengalami gangguan setiap hari. Di tahun 2024, sebanyak 78% wisatawan global melaporkan mengalami disrupsi perjalanan, dengan 43% mengalami penundaan lebih dari satu jam dan 27% menghadapi pembatalan, menurut Survei Gangguan Perjalanan Bisnis dari TravelPerk. Meski merupakan data global, pola serupa juga terjadi di Indonesia.

Baca Juga: Destinasi Wisata Kelas Dunia, Mesin Baru Penggerak Kemandirian Ekonomi Masyarakat Lombok

Di Indonesia, gangguan perjalanan akibat faktor alam juga terus terjadi. Pada Februari 2025 misalnya, cuaca ekstrem di Bali dan Nusa Tenggara Barat mengganggu 11 penerbangan, mulai dari penundaan hingga pengalihan rute.

Lalu pada Juni 2025, erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di NTT menyebabkan pembatalan dan penundaan penerbangan dari dan menuju Bali dan Labuan Bajo, karena sebaran abu vulkanik yang mencapai ketinggian 10 km.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!