Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,12%, Saatnya Pemerataan Jadi Prioritas
Jum'at, 08 Agustus 2025 - 17:36 WIB
Menurut dia, capaian ini didukung oleh kinerja ekspor yang tumbuh 10,67%, menunjukkan adaptasi industri Indonesia terhadap pasar global. Selain itu, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan dengan kontribusi mencapai 54,25% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menandakan tingginya kepercayaan konsumen.
Bahtiar mengingatkan bahwa angka pertumbuhan yang impresif tidak boleh membuat terlena. Menurut dia, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan, terutama terkait pemerataan pembangunan dan kualitas pertumbuhan.
Salah satu catatan kritis yang disorot adalah ketimpangan pertumbuhan antarwilayah. Pulau Jawa masih mendominasi PDB nasional dengan kontribusi 56,94%. Di sisi lain, wilayah timur Indonesia seperti Maluku dan Papua hanya berkontribusi 2,73%, dengan pertumbuhan paling rendah (3,33% yoy). Ketimpangan ini harus segera ditangani agar pembangunan dapat benar-benar inklusif.
Selain itu, Bahtiar menyoroti kontraksi pengeluaran pemerintah sebesar 0,33%. Di tengah kondisi yang menuntut stimulus ekonomi, kontraksi ini menjadi sinyal perlunya perbaikan dalam serapan anggaran, efektivitas program, serta distribusi belanja ke sektor-sektor strategis.
Baca Juga: Sri Mulyani Siapkan Stimulus Rp10,8 Triliun Pacu Ekonomi Kuartal III
Bahtiar mengingatkan bahwa angka pertumbuhan yang impresif tidak boleh membuat terlena. Menurut dia, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan, terutama terkait pemerataan pembangunan dan kualitas pertumbuhan.
Salah satu catatan kritis yang disorot adalah ketimpangan pertumbuhan antarwilayah. Pulau Jawa masih mendominasi PDB nasional dengan kontribusi 56,94%. Di sisi lain, wilayah timur Indonesia seperti Maluku dan Papua hanya berkontribusi 2,73%, dengan pertumbuhan paling rendah (3,33% yoy). Ketimpangan ini harus segera ditangani agar pembangunan dapat benar-benar inklusif.
Selain itu, Bahtiar menyoroti kontraksi pengeluaran pemerintah sebesar 0,33%. Di tengah kondisi yang menuntut stimulus ekonomi, kontraksi ini menjadi sinyal perlunya perbaikan dalam serapan anggaran, efektivitas program, serta distribusi belanja ke sektor-sektor strategis.
Baca Juga: Sri Mulyani Siapkan Stimulus Rp10,8 Triliun Pacu Ekonomi Kuartal III
Lihat Juga :