Trump dan Putin Bertemu di Alaska Hari Ini, Harga Minyak Mendidih ke Level Tertinggi dalam Sepekan
Jum'at, 15 Agustus 2025 - 08:44 WIB
Pada penutupan perdagangan, harga minyak acuan global, Brent, naik USD1,21 atau 1,8% menjadi USD66,84 per barel. Sementara, acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak USD1,31 atau 2,1% menjadi USD63,96 per barel. Berdasarkan laporan Reuters, kenaikan ini membawa kedua harga minyak keluar dari area jenuh jual (oversold) setelah tiga hari berturut-turut.
Secara spesifik, harga Brent mencapai penutupan tertingginya sejak 6 Agustus, sedangkan WTI mencapai level tertinggi sejak 2 Juni. Kenaikan ini juga menjadi pembalikan tren setelah pada awal pekan, Brent dan WTI menyentuh level terendah dalam beberapa bulan akibat data inventaris dan pasokan yang dianggap bearish oleh Administrasi Informasi Energi AS (EIA) dan Badan Energi Internasional (IEA).
Selain faktor geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve juga menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak. Suku bunga yang lebih rendah akan mengurangi biaya pinjaman bagi konsumen, yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan permintaan terhadap minyak.
Pasar saat ini sebagian besar memproyeksikan The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga pada September, menyusul data inflasi AS yang meningkat secara moderat pada Juli serta laporan lapangan kerja yang dinilai lemah. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan mengindikasikan kemungkinan pemotongan suku bunga hingga 0,5%.
Meskipun demikian, lonjakan inflasi yang berpotensi terjadi dapat kembali memicu kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan The Fed, sehingga memperkuat perdebatan tentang perlunya pemangkasan suku bunga. Situasi ini menunjukkan ketegangan yang belum terselesaikan antara Gedung Putih dan The Fed terkait kebijakan ekonomi.
Secara spesifik, harga Brent mencapai penutupan tertingginya sejak 6 Agustus, sedangkan WTI mencapai level tertinggi sejak 2 Juni. Kenaikan ini juga menjadi pembalikan tren setelah pada awal pekan, Brent dan WTI menyentuh level terendah dalam beberapa bulan akibat data inventaris dan pasokan yang dianggap bearish oleh Administrasi Informasi Energi AS (EIA) dan Badan Energi Internasional (IEA).
Selain faktor geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve juga menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak. Suku bunga yang lebih rendah akan mengurangi biaya pinjaman bagi konsumen, yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan permintaan terhadap minyak.
Pasar saat ini sebagian besar memproyeksikan The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga pada September, menyusul data inflasi AS yang meningkat secara moderat pada Juli serta laporan lapangan kerja yang dinilai lemah. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan mengindikasikan kemungkinan pemotongan suku bunga hingga 0,5%.
Meskipun demikian, lonjakan inflasi yang berpotensi terjadi dapat kembali memicu kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan The Fed, sehingga memperkuat perdebatan tentang perlunya pemangkasan suku bunga. Situasi ini menunjukkan ketegangan yang belum terselesaikan antara Gedung Putih dan The Fed terkait kebijakan ekonomi.
Lihat Juga :