Pilot Proyek Dekarbonisasi Petrokimia Gresik Hasilkan Bahan Baku Industri
Sabtu, 23 Agustus 2025 - 12:25 WIB
Baca Juga: Petrokimia Gresik Tambah Pasokan Gas dari Blok Ketapang 25 MMSCFD
Ia menambahkan, sebagai produsen pupuk dan bahan kimia dengan kapasitas produksi hingga 11 juta ton per tahun, Petrokimia Gresik tidak dapat lepas dari potensi emisi karbon. Tanpa upaya penurunan, emisi karbon yang dihasilkan dapat mencapai 2 juta ton per tahun. Hingga 2025, berbagai program dekarbonisasi yang telah dijalankan berhasil menurunkan sekitar 400 ribu ton CO₂ ekuivalen, namun masih tersisa sekitar 1,6 juta ton CO₂ ekuivalen yang perlu ditangani dengan teknologi rendah karbon seperti CCU.
"Karena itu diperlukan langkah-langkah inovatif dari perusahaan. Upaya ini sekaligus selaras dengan program Kementerian Perindustrian berupa sistem penangkapan karbon dengan teknologi CCU," pungkas Daconi. Saat ini, Petrokimia Gresik telah mencanangkan peta jalan dekarbonisasi menuju Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2030 dan NZE 2050 dengan berbagai program dan inisiatif. Sejauh ini, program dekarbonisasi yang telah diimplementasikan di antaranya instalasi solar cell, efisiensi energi di pabrik amonia, dan fuel switch pabrik NPK.
Sementara, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto, menegaskan pilot proyek CCU di Petrokimia Gresik membuktikan emisi karbon dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku bernilai tambah sekaligus mendukung substitusi impor. "Melalui teknologi ini kita bisa memanfaatkan apa yang saat ini dianggap sampah, yaitu emisi karbon, menjadi bahan baku atau bahan lanjutan bernilai ekonomis bagi industri," ujar Eko.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini mempercepat target NZE menjadi 10 tahun lebih cepat dari komitmen nasional, yaitu dari NZE 2060 menjadi NZE 2050. Untuk mengejar target tersebut, pilot proyek CCU menjadi langkah strategis. "Tapi tidak mudah, dari beberapa perusahaan yang kami dekati, ada yang mundur karena khawatir proyek ini gagal. Alhamdulillah Petrokimia Gresik bersedia menjadi lokasi pilot project tersebut," ungkap Eko.
Ia menambahkan, sebagai produsen pupuk dan bahan kimia dengan kapasitas produksi hingga 11 juta ton per tahun, Petrokimia Gresik tidak dapat lepas dari potensi emisi karbon. Tanpa upaya penurunan, emisi karbon yang dihasilkan dapat mencapai 2 juta ton per tahun. Hingga 2025, berbagai program dekarbonisasi yang telah dijalankan berhasil menurunkan sekitar 400 ribu ton CO₂ ekuivalen, namun masih tersisa sekitar 1,6 juta ton CO₂ ekuivalen yang perlu ditangani dengan teknologi rendah karbon seperti CCU.
"Karena itu diperlukan langkah-langkah inovatif dari perusahaan. Upaya ini sekaligus selaras dengan program Kementerian Perindustrian berupa sistem penangkapan karbon dengan teknologi CCU," pungkas Daconi. Saat ini, Petrokimia Gresik telah mencanangkan peta jalan dekarbonisasi menuju Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2030 dan NZE 2050 dengan berbagai program dan inisiatif. Sejauh ini, program dekarbonisasi yang telah diimplementasikan di antaranya instalasi solar cell, efisiensi energi di pabrik amonia, dan fuel switch pabrik NPK.
Sementara, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto, menegaskan pilot proyek CCU di Petrokimia Gresik membuktikan emisi karbon dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku bernilai tambah sekaligus mendukung substitusi impor. "Melalui teknologi ini kita bisa memanfaatkan apa yang saat ini dianggap sampah, yaitu emisi karbon, menjadi bahan baku atau bahan lanjutan bernilai ekonomis bagi industri," ujar Eko.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini mempercepat target NZE menjadi 10 tahun lebih cepat dari komitmen nasional, yaitu dari NZE 2060 menjadi NZE 2050. Untuk mengejar target tersebut, pilot proyek CCU menjadi langkah strategis. "Tapi tidak mudah, dari beberapa perusahaan yang kami dekati, ada yang mundur karena khawatir proyek ini gagal. Alhamdulillah Petrokimia Gresik bersedia menjadi lokasi pilot project tersebut," ungkap Eko.
Lihat Juga :