Sikap Purbaya Tolak Tax Amnesty Jilid 3 Bikin Rupiah Terkapar ke Rp16.749 per USD
Kamis, 25 September 2025 - 16:44 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) hari ini berakhir babak belur, usai anjlok 64,5 poin atau sekitar 0,39% ke level Rp16.749 per dolar AS. Foto/Dok
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (25/9/2025), anjlok 64,5 poin atau sekitar 0,39% ke level Rp16.749 per dolar AS. Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, ketegangan geopolitik di Eropa kembali memanas, setelah Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa menyampaikan nada yang lebih agresif terhadap Rusia dalam pidatonya di PBB.
Ia memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak terus membeli minyak Rusia dan mengatakan Washington sedang mempertimbangkan sanksi baru yang dapat menargetkan aliran energi.
"Meskipun belum ada langkah segera yang diumumkan, retorika tersebut meningkatkan risiko geopolitik di pasar, dengan kekhawatiran bahwa sanksi yang lebih keras dapat mengganggu ekspor Rusia atau memicu tindakan balasan pasokan," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Omongan Purbaya Bikin Rupiah Babak Belur, Sempat Tembus Rp16.634
Sebelumnya, Ukraina telah meningkatkan serangan pesawat nirawak terhadap infrastruktur energi Rusia dalam beberapa minggu terakhir, menargetkan kilang minyak dan terminal ekspor untuk mengurangi pendapatan ekspor Moskow, dan Rusia mengalami kekurangan bahan bakar jenis tertentu dengan kemungkinan pembatasan ekspor bahan bakar jika diperlukan.
Ia memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak terus membeli minyak Rusia dan mengatakan Washington sedang mempertimbangkan sanksi baru yang dapat menargetkan aliran energi.
"Meskipun belum ada langkah segera yang diumumkan, retorika tersebut meningkatkan risiko geopolitik di pasar, dengan kekhawatiran bahwa sanksi yang lebih keras dapat mengganggu ekspor Rusia atau memicu tindakan balasan pasokan," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Omongan Purbaya Bikin Rupiah Babak Belur, Sempat Tembus Rp16.634
Sebelumnya, Ukraina telah meningkatkan serangan pesawat nirawak terhadap infrastruktur energi Rusia dalam beberapa minggu terakhir, menargetkan kilang minyak dan terminal ekspor untuk mengurangi pendapatan ekspor Moskow, dan Rusia mengalami kekurangan bahan bakar jenis tertentu dengan kemungkinan pembatasan ekspor bahan bakar jika diperlukan.
Lihat Juga :