Menjaga Maskapai Garuda Tetap Mengangkasa lewat Suntikan Modal Danantara

Jum'at, 17 Oktober 2025 - 23:21 WIB
Lalu Viva Air Colombia menghentikan operasinya pada Februari 2023 karena gagal merger dan lonjakan harga avtur. Di Brasil, Voepass Airlines kehilangan izin terbang karena masalah tata kelola dan keselamatan.

Fenomena ini memperkuat bukti bahwa negara-negara di dunia tetap memberikan dukungan pada flag carrier mereka bukan karena semata-mata mengejar keuntungan, tetapi karena perannya yang strategis. Flag carrier adalah wajah negara. Mereka membawa turis, pelaku bisnis, dan diplomasi luar negeri. Menjaganya adalah bagian dari menjaga daya saing nasional dan menjaga aliran devisa masuk.

Gatot Rahardjo, analis aviasi senior dan mantan anggota tim restrukturisasi Garuda menyatakan, “Yang dibutuhkan Garuda bukan sekadar pendanaan, tetapi mitra yang mampu mendorong restrukturisasi menyeluruh.”

Ia menambahkan, bahwa banyak armada Garuda Indonesia masih tidak aktif karena keterbatasan biaya perawatan. Dukungan dari Danantara bisa mengaktifkan armada, menambah kapasitas produksi, dan memperkuat efisiensi operasional berbasis teknologi.

Liza C. Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, memperkirakan bahwa suntikan modal Danantara akan memperbaiki struktur keuangan Garuda secara signifikan, “Ekuitas bisa meningkat menjadi sekitar 350 juta dolar AS, current ratio mencapai 1,5 kali, dan liabilitas berkurang melalui konversipinjaman pemegang saham.”

Rencana penyertaan modal mencakup dua skema: setoran tunai dan konversi pinjaman pemegang saham menjadi saham baru. Garuda juga telah menyiapkan rencana alokasi penggunaan dana secara terstruktur-mulai dari kebutuhan operasional dan perawatan armada, penguatan modal anak usaha Citilink, ekspansi armada, hingga pelunasan utang pembelian bahan bakar.

Dengan langkah-langkah tersebut, sinyal pemulihan sudah mulai terlihat. Data semester I-2025 menunjukkan bahwa meskipun jumlah armada operasional masih terbatas, pendapatan rata-rata per armada meningkat 1,3% menjadi USD15,88 juta. Kinerja ini menjadi indikasi bahwa Garuda Indonesia tetap memiliki daya tahan bisnis-dan akan mampu bangkit lebih cepat jika struktur pendanaannya diperkuat.

Restrukturisasi Berkelanjutan: Dimulai dari Puncak

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 15 Oktober 2025 menjadi momen penting dalam tahapan restrukturisasi Garuda. Dalam agenda tersebut, pemegang saham menyetujui susunan manajemen baru yang memperkuat dimensi tata kelola dan profesionalisasi—baik dari sisi kapasitas finansial, operasional, maupun transformasi budaya perusahaan.

Dua nama asing di jajaran direksi-Balagopal Kunduvara (DirekturKeuangan dan Manajemen Risiko) dan Neil Raymond Mills (Direktur Transformasi)-menjadi simbol keseriusan arah baru ini.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!