Chief Sustainability Officer Bank DBS Ungkap 5 Tren yang Membentuk Arah Sustainable Financing Saat Ini

Jum'at, 24 Oktober 2025 - 13:16 WIB
Helge yakin Indonesia memiliki potensi NBS yang sangat besar. Sebagai rumah bagi sekitar 20 persen hutan mangrove dunia dan salah satu keanekaragaman hayati terkaya di bumi, negara ini memiliki potensi besar untuk mengubah aset alam menjadi motor pertumbuhan berkelanjutan. Di sinilah Nature-Based Solution (NBS) berperan, seperti pendanaan untuk restorasi mangrove, rehabilitasi lahan gambut, dan proyek karbon berbasis alam. Secara ekonomi, proyek-proyek ini telah terbukti memiliki efek multiplier yang kuat. Restorasi mangrove, misalnya, tidak hanya mengurangi emisi hingga empat kali lipat per hektar dibandingkan hutan daratan, tetapi juga melindungi kawasan pesisir dari kerugian ekonomi akibat bencana alam, yang dapat mencapai miliaran dolar setiap tahun.

5. Kerja Sama Lintas Sektor Merupakan Kunci untuk Mempercepat Transisi Hijau

Transisi menuju ekonomi hijau dan biru tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Helge menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, regulator, pelaku industri, lembaga keuangan, dan masyarakat sipil untuk menghadirkan solusi yang lebih inovatif, terukur, dan berkelanjutan. Pendekatan yang melibatkan seluruh sektor ini memungkinkan pembagian risiko dan percepatan pembiayaan untuk proyek-proyek transisi yang sebelumnya sulit diakses melalui pasar konvensional.

Bank DBS merupakan salah satu lembaga yang secara aktif menerapkan pendekatan ini melalui sejumlah inisiatif bersama mitra global dan lokal. Salah satu contohnya adalah skema pembiayaan campuran (blended finance) yang dilaksanakan bekerja sama dengan Karian Water Services, Asian Development Bank, dan International Finance Corporation untuk membiayai penyediaan air bersih bagi lebih dari dua juta penduduk di Jakarta, Tangerang, dan Tangerang Selatan. Proyek ini menandai implementasi pertama blended finance di sektor air Indonesia dan menunjukkan bagaimana model kemitraan seperti ini dapat diperluas ke bidang lain, mulai dari energi terbarukan hingga infrastruktur berkelanjutan, untuk mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon.

“Kami tidak dapat mencapai perubahan ini sendirian. Sesuai dengan aspirasi kami untuk menjadi ‘Best Bank for a Better World’, Bank DBS berkomitmen tidak hanya untuk mengembangkan solusi pembiayaan berbasis alam tetapi juga untuk mendorong inovasi keuangan yang berdampak positif melalui kolaborasi dengan berbagai mitra. Setiap pemangku kepentingan memiliki peran yang harus dimainkan agar transformasi ekonomi hijau dan biru tidak hanya menjadi konsep belaka. Hal ini menghasilkan solusi yang relevan, inklusif, dan berkelanjutan bagi baik manusia maupun lingkungan,” kata Helge.

Inisiatif-inisiatif ini menggambarkan arah baru bagi dunia keuangan, di mana kolaborasi, inovasi, dan keberanian untuk mengambil risiko menjadi kunci untuk mempercepat transisi menuju ekonomi hijau dan biru. Dengan tantangan iklim yang semakin nyata, sektor keuangan berada dalam posisi strategis tidak hanya untuk mengalirkan pembiayaan tetapi juga untuk mengubah paradigma nilai: dari sekadar mengejar keuntungan menjadi menciptakan dampak jangka panjang bagi manusia dan planet.

Sebagai bagian dari komitmennya terhadap transisi bisnis yang berkelanjutan, DBS Group telah mengambil langkah proaktif melalui panduan dekarbonisasi “Our Path to Net Zero”, yang menyoroti sembilan sektor kunci, mulai dari penerbangan, otomotif, properti, kimia, pangan dan pertanian, minyak dan gas, energi, baja, hingga pelayaran. Panduan ini berfungsi sebagai acuan strategis bagi Bank DBS untuk merancang rencana transisi yang realistis sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap pengurangan emisi.

Sesuai dengan hal ini, Bank DBS juga telah mendirikan Indonesia Sustainability Council (ISC), sebuah dewan yang bertugas mengarahkan strategi dan tindakan terkait upaya ESG Bank DBS Indonesia. ISC beroperasi sejalan dengan upaya keberlanjutan global DBS Group, termasuk Group Sustainability Council dan dewan serupa di lima pasar utama di luar Singapura.

Di Indonesia sendiri, Bank DBS Indonesia memainkan peran strategis dalam mendukung perusahaan-perusahaan yang sedang bertransformasi menuju ekonomi rendah karbon. Salah satu contohnya adalah perannya sebagai koordinator ESG dalam penerbitan obligasi sosial oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), yang menjadi contoh konkret bagaimana sektor keuangan dapat mempromosikan praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab sambil memperluas akses ke pembiayaan hijau.
(unt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!