Konsumsi Kelas Menengah Bergeser, Gaya Hidup Dipangkas

Rabu, 29 Oktober 2025 - 07:20 WIB
Kebiasaan membandingkan harga pun semakin masif. Sebanyak 94,5% responden membandingkan harga offline–online, terutama untuk fesyen dan kosmetik. Ini mendorong pergeseran transaksi ke e-commerce dan pasar tradisional.

“Tekanan dompet ini menjadi faktor utama, karena sejauh ini masyarakat ingin lebih murah jadi pasti membandingkan,” tutur Ashma.

Meski mal tetap ramai, tiga dari lima responden mengaku sering “rohana/rojali”-jalan-jalan tanpa belanja.Mereka menilai harga mahal dan diskon kurang menarik, sehingga niat belanja di ritel fisik melemah.“Pada akhirnya, mal berubah fungsi dari tempat purchasing ke tempat untuk mencoba barang,” ucapnya.

Dari sisi keuangan, satu dari dua responden menggunakan paylater; sepertiga memiliki utang bank non-KPR; dan seperempat pernah mengakses pinjaman online. Ini menunjukkan akses kredit konsumtif cukup tinggi di kelompok ini.

“Kenapa Paylater ini banyak yang menggunakan? Karena gampang, mudah secara persyaratan dibanding kartu kredit, nah resikonya kalau semuanya gagal bayar atau mayoritas gagal bayar," kata Ashma.

Soal keberpihakan pemerintah, 58% responden menilai pemerintah masih berpihak pada kelas menengah (10 persen sangat berpihak, 48 persen cukup berpihak). Sementara 37% menilai tidak berpihak, dan 5% tidak tahu.

"Kebijakan pendidikan dan kesehatan diperlukan juga sama kelas menengah, namun perlu diingat kebutuhan dasar seperti itu kurang relevan bagi masyarakat menengah," kata Ashma.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!