Prof Bayu Krisnamurthi Dorong Tata Kelola Sawit Berkelanjutan: Manfaat Ekonomi Besar, Risiko Harus Diminimalkan
Rabu, 10 Desember 2025 - 18:58 WIB
Baca Juga: Hadapi Diskriminasi Global, Indonesia Perketat Standar Sawit Berkelanjutan
Sebelumnya, selaras dengan Visi Indonesia Emas 2045 dan target Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat, industri sawit tidak hanya berperan strategis sebagai sumber ekonomi, tetapi juga menjadi contoh transformasi berkelanjutan yang menciptakan lapangan kerja hijau, mengurangi kemiskinan, dan mendukung transisi energi bersih. Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan Indonesia berkomitmen mengelola sumber daya alam sesuai dengan prinsip Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs).
“Kita akan terus menyeimbangkan pertumbuhan dengan tanggung jawab pengelolaan lingkungan, memastikan bahwa kemajuan kita tidak mengorbankan alam maupun generasi berikutnya. Dengan berpedoman pada semangat kearifan lokal Bali, Tri Hita Karana, yang mengusung keselarasan antara Tuhan, manusia, dan alam, kita membangun industri sawit global yang tidak hanya produktif, tetapi juga etis, inklusif, dan manusiawi,” urai Rachmat Pambudy pada Acara 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Price Outlook (IPOC) 2025 di Bali, Kamis (13/11) seperti dikutip dalam situs resmi bappenas.
Menurutnya, Indonesia berpotensi menjadi produsen CPO terbesar di dunia, yang memenuhi sekitar 59 persen kebutuhan pasar global atau mencapai 47,5 juta ton. Minyak sawit menjadi pilar strategis ekonomi Indonesia, mendorong ekspor, menggerakkan industri, dan memberdayakan jutaan petani kecil. “Kita harus membantu petani kecil untuk modernisasi, mendapatkan akses pembiayaan, mengadopsi teknologi yang lebih baik, dan meningkatkan produktivitas agar mereka dapat bersaing dan berkembang dalam rantai nilai global,” tegas Rachmat Pambudy.
Upaya yang dilakukan antara lain reformasi regulasi, program peremajaan perkebunan, penguatan sistem digital, serta peningkatan standar sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Kementerian PPN/Bappenas mendorong pengembangan industri hilir sawit, mulai dari pengembangan biofuel, sustainable aviation fuel (SAF), serta produk oleokimia dan bahan ramah lingkungan bernilai tinggi, guna menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar, pekerjaan hijau yang lebih baik, serta pertumbuhan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Sebelumnya, selaras dengan Visi Indonesia Emas 2045 dan target Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat, industri sawit tidak hanya berperan strategis sebagai sumber ekonomi, tetapi juga menjadi contoh transformasi berkelanjutan yang menciptakan lapangan kerja hijau, mengurangi kemiskinan, dan mendukung transisi energi bersih. Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan Indonesia berkomitmen mengelola sumber daya alam sesuai dengan prinsip Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs).
“Kita akan terus menyeimbangkan pertumbuhan dengan tanggung jawab pengelolaan lingkungan, memastikan bahwa kemajuan kita tidak mengorbankan alam maupun generasi berikutnya. Dengan berpedoman pada semangat kearifan lokal Bali, Tri Hita Karana, yang mengusung keselarasan antara Tuhan, manusia, dan alam, kita membangun industri sawit global yang tidak hanya produktif, tetapi juga etis, inklusif, dan manusiawi,” urai Rachmat Pambudy pada Acara 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Price Outlook (IPOC) 2025 di Bali, Kamis (13/11) seperti dikutip dalam situs resmi bappenas.
Menurutnya, Indonesia berpotensi menjadi produsen CPO terbesar di dunia, yang memenuhi sekitar 59 persen kebutuhan pasar global atau mencapai 47,5 juta ton. Minyak sawit menjadi pilar strategis ekonomi Indonesia, mendorong ekspor, menggerakkan industri, dan memberdayakan jutaan petani kecil. “Kita harus membantu petani kecil untuk modernisasi, mendapatkan akses pembiayaan, mengadopsi teknologi yang lebih baik, dan meningkatkan produktivitas agar mereka dapat bersaing dan berkembang dalam rantai nilai global,” tegas Rachmat Pambudy.
Upaya yang dilakukan antara lain reformasi regulasi, program peremajaan perkebunan, penguatan sistem digital, serta peningkatan standar sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Kementerian PPN/Bappenas mendorong pengembangan industri hilir sawit, mulai dari pengembangan biofuel, sustainable aviation fuel (SAF), serta produk oleokimia dan bahan ramah lingkungan bernilai tinggi, guna menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar, pekerjaan hijau yang lebih baik, serta pertumbuhan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
(nng)
Lihat Juga :