Rupiah Babak Belur, Dolar AS Dekati Rp17.000 Hari Ini
Senin, 19 Januari 2026 - 15:51 WIB
Selain itu, data di AS menunjukkan pasar tenaga kerja tidak selemah yang diperkirakan. Oleh karena itu, para pedagang menjadi ragu-ragu apakah Federal Reserve akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini.
Kontrak berjangka dana Fed saat ini telah menunda ekspektasi pemotongan suku bunga berikutnya ke bulan Juni dan September dari perkiraan sebelumnya di bulan Januari dan April. Menurut pandangannya, bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Di Asia, data pada hari Senin menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,0 persen tahun lalu, memenuhi target pemerintah dengan merebut pangsa permintaan global barang yang mencapai rekor untuk mengimbangi konsumsi domestik yang lemah.
Baca Juga: Trump Kenakan Tarif 25% pada 8 Negara NATO karena Menentang AS Mencaplok Greenland
Dari sentimen domestik, demi mendukung terciptanya ekonomi 8 persen, pemerintah akan mencoba menerapkan kebijakan yang relatif tidak lazim sehingga adanya risiko jangka menengah yang lebih besar, yang dapat memicu sentimen negatif lebih lanjut terhadap rupiah.
“Selain itu, kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Indonesia kembali mencuat setelah terungkap pada 8 Januari 2026 bahwa defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum sebesar 3%, sementara penerimaan negara masih lemah. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah,” kata Ibrahim.
Kontrak berjangka dana Fed saat ini telah menunda ekspektasi pemotongan suku bunga berikutnya ke bulan Juni dan September dari perkiraan sebelumnya di bulan Januari dan April. Menurut pandangannya, bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Di Asia, data pada hari Senin menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,0 persen tahun lalu, memenuhi target pemerintah dengan merebut pangsa permintaan global barang yang mencapai rekor untuk mengimbangi konsumsi domestik yang lemah.
Baca Juga: Trump Kenakan Tarif 25% pada 8 Negara NATO karena Menentang AS Mencaplok Greenland
Dari sentimen domestik, demi mendukung terciptanya ekonomi 8 persen, pemerintah akan mencoba menerapkan kebijakan yang relatif tidak lazim sehingga adanya risiko jangka menengah yang lebih besar, yang dapat memicu sentimen negatif lebih lanjut terhadap rupiah.
“Selain itu, kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Indonesia kembali mencuat setelah terungkap pada 8 Januari 2026 bahwa defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum sebesar 3%, sementara penerimaan negara masih lemah. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah,” kata Ibrahim.
Lihat Juga :