Bitcoin Terkoreksi ke Rp1,11 Miliar, Indodax Sebut Fase Konsolidasi Wajar

Jum'at, 20 Februari 2026 - 20:07 WIB
Sikap suku bunga lebih tinggi dalam waktu lebih lama (higher for longer) turut mendorong penguatan Indeks Dolar AS (DXY) ke kisaran 97,7 dan menekan aset berisiko, termasuk kripto. Data CME Group melalui FedWatch Tool menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga minimal 25 basis poin sebelum Juni berada di bawah 50%, mencerminkan sikap pasar yang lebih berhati-hati.

Antony menilai fondasi Bitcoin tetap terjaga meski pasar berada dalam fase konsolidasi. Ia menyebut area USD64.000 menjadi level support kuat berdasarkan pola historis pergerakan harga. Lebih lanjut, Antony menyoroti pentingnya stabilitas kebijakan domestik, termasuk keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang berada di kisaran 4,75%–5,5%, dalam menjaga likuiditas dan kepercayaan investor.

"Langkah Bank Indonesia ke depan dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah tentu memberikan kepastian bagi perekonomian domestik. Di tengah dinamika suku bunga dan isu geopolitik global yang masih dinamis, investor kripto tidak perlu panik. Justru, kondisi makroekonomi seperti ini kembali mengingatkan kita pada fungsi utama Bitcoin sebagai aset lindung nilai (hedge) jangka panjang yang tangguh. Kami melihat ini sebagai momentum yang baik bagi investor untuk merencanakan portofolio mereka secara lebih matang," tambah Antony.

Baca Juga: Investor Kripto Tembus 20 Juta Orang, Indodax Catat Transaksi Rp201 T di 2025

Indodax mengimbau investor tetap rasional di tengah volatilitas dan menerapkan manajemen risiko yang disiplin. Strategi investasi bertahap seperti Dollar Cost Averaging (DCA) dinilai menjadi pendekatan yang relevan untuk memitigasi fluktuasi harga dalam kondisi pasar yang tertekan faktor makroekonomi global.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!