Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat ke Rp16.800 per Dolar AS, Ini Faktornya

Rabu, 25 Februari 2026 - 18:33 WIB
Namun stabilitas tersebut saat ini tengah dibayangi oleh meningkatnya ketidakpastian dalam proses perumusan kebijakan. Moody’s secara eksplisit mencatat bahwa prediktabilitas dan koherensi kebijakan telah melemah dalam setahun terakhir, kemudian juga diperparah oleh komunikasi kebijakan yang kurang efektif. Kombinasi ini berkontribusi pada meningkatnya volatilitas di pasar ekuitas dan valuta asing.

Masalah mendasar terletak pada dilema klasik fiskal Indonesia, yaitu kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan melalui ekspansi belanja publik di tengah basis penerimaan negara yang sempit. Pemerintah diperkirakan akan semakin mengandalkan belanja fiskal untuk mendukung agenda pembangunan, termasuk program ketahanan pangan dan perumahan terjangkau.

Terbatasnya kemampuan pemerintah dalam memperluas basis pajak malah meningkatkan risiko pelebaran defisit fiskal dalam jangka menengah, terutama jika ekspansi belanja tidak diimbangi oleh reformasi penerimaan yang signifikan. Moody’s memperkirakan rasio utang pemerintah akan tetap stabil di sekitar 40% terhadap PDB, atau masih di bawah median negara-negara dengan peringkat serupa.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp16.800 - Rp16.830 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ibrahim mengatakan, penguatan rupiah ini juga didorong sentimen eksternal yaitu sebelumnya pemerintah AS mulai memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10%, dengan Trump berupaya meningkatkan tarif tersebut menjadi 15%, sebuah langkah yang telah memicu ketidakpastian atas perdagangan global dan inflasi.

"Tindakan tarif ini menyusul putusan Mahkamah Agung AS pekan lalu yang membatalkan bea masuk besar-besaran yang sebelumnya diberlakukan berdasarkan kekuasaan darurat, mendorong Washington untuk memperkenalkan kembali tarif berdasarkan otoritas hukum alternatif," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!