Pembentukan Dewan Perdagangan dan Investasi RI-AS Dinilai Bisa Jadi Penentu Arah Ekonomi

Jum'at, 27 Februari 2026 - 18:58 WIB
Engel melihat Amerika Serikat memiliki kepentingan besar terhadap sumber daya strategis Indonesia, terutama mineral kritis yang dibutuhkan dalam rantai pasok global industri kendaraan listrik dan teknologi energi bersih.

Di sisi lain, kata dia, Indonesia membutuhkan akses pasar yang lebih luas, kepastian tarif, serta akses teknologi untuk meningkatkan nilai tambah industri dan menjaga stabilitas ekspor. “Kerja sama ini harus menguntungkan dua arah. Indonesia tidak boleh hanya menjadi sumber bahan baku. Hilirisasi dan transfer teknologi harus menjadi prioritas dalam setiap negosiasi,” jelas dia.

Selain itu, Engel menilai pembentukan Council of Trade and Investment akan memengaruhi persepsi investor global terhadap stabilitas kebijakan Indonesia. Ia memperkirakan sektor hilirisasi mineral, energi baru terbarukan, pertahanan, dan ekonomi digital akan menjadi fokus awal pembahasan. “Peluang kolaborasi di bidang semikonduktor, pusat data, dan pengembangan kecerdasan buatan juga terbuka lebar apabila kedua negara mampu menyepakati kerangka kerja yang saling menguntungkan,” imbuhnya.

Baca Juga: Waketum PKB: Perjanjian Dagang AS-RI Perkuat Posisi Indonesia di Peta Global

Meski demikian, Engel mengingatkan adanya risiko ketergantungan apabila kerja sama tidak diimbangi dengan diversifikasi mitra dagang. Dalam konteks geopolitik global yang dinamis, setiap kedekatan ekonomi dapat membawa implikasi strategis yang lebih luas. “Pemerintah perlu menjaga keseimbangan agar kepentingan nasional tetap menjadi prioritas utama. Jika dikelola dengan presisi, Indonesia bisa memperkuat fondasi ekonominya. Jika tidak, tekanan global justru bisa semakin besar,” tuturnya.

Ia juga mendorong agar komposisi perwakilan dalam Council of Trade and Investment tidak hanya diisi pejabat pemerintah dan perwakilan korporasi besar. Pengusaha nasional, termasuk generasi muda, dinilai perlu dilibatkan dalam forum konsultatif atau kelompok kerja teknis agar kebijakan yang dihasilkan inklusif. “Kalau hanya pemain raksasa yang dilibatkan, dampaknya tidak merata. Padahal kekuatan ekonomi Indonesia ada pada kombinasi industri besar dan menengah,” ujarnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!