6 Dampak Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia hingga Gas Langsung Bergejolak
Rabu, 04 Maret 2026 - 06:13 WIB
Mayoritas responden dalam survei global ekonom oleh Bloomberg News memprediksi perang akan memiliki dampak minimal terhadap produk domestik bruto baik di AS, zona euro, maupun China. Namun banyak responden menambahkan bahwa banyak hal akan tergantung pada berapa lama konflik berlangsung.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memproyeksikan dampak eskalasi perang antara AS, Israel dengan Iran akan membuat harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri bergejolak. Kenaikan harga minyak tersebut akibat terganggunya pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz sebagai jalur strategis distribusi global.
Pada akhirnya pemerintah bakal dihadapkan pada pilihan sulit, menaikkan harga BBM atau menambah beban subsidi. Terkait kemungkinan perubahan harga BBM subsidi, Bahlil menegaskan hingga rapat terakhir pemerintah belum ada pembahasan mengenai penyesuaian.
Pelemahan rupiah akan memperberat biaya impor energi. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas pada hari Senin dengan Israel menyerang Lebanon.
Lalu Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Sentimen perang mendorong nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah tipis pada akhir perdagangan Selasa (3/3/2026), usai turun 4 poin atau sekitar 0,02% ke level Rp16.872 per dolar AS.
Ini berpotensi memperlambat aktivitas perdagangan global.
4. Harga BBM Dalam Negeri Terancam Naik
Bagi Indonesia, dampaknya bisa sangat terasa. Meski tidak mengimpor minyak langsung dari Iran, Indonesia tetap mengikuti harga pasar global. Jika harga minyak dunia terus naik, tekanan terhadap subsidi energi dan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) akan membesar.Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memproyeksikan dampak eskalasi perang antara AS, Israel dengan Iran akan membuat harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri bergejolak. Kenaikan harga minyak tersebut akibat terganggunya pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz sebagai jalur strategis distribusi global.
Pada akhirnya pemerintah bakal dihadapkan pada pilihan sulit, menaikkan harga BBM atau menambah beban subsidi. Terkait kemungkinan perubahan harga BBM subsidi, Bahlil menegaskan hingga rapat terakhir pemerintah belum ada pembahasan mengenai penyesuaian.
5. Mata Uang Negara Berkembang Tertekan
Konflik geopolitik biasanya membuat investor global menarik dana dari negara berkembang dan beralih ke aset aman seperti dolar AS dan emas. Dampaknya, nilai tukar mata uang emerging market bisa melemah, termasuk rupiah.Pelemahan rupiah akan memperberat biaya impor energi. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas pada hari Senin dengan Israel menyerang Lebanon.
Lalu Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Sentimen perang mendorong nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah tipis pada akhir perdagangan Selasa (3/3/2026), usai turun 4 poin atau sekitar 0,02% ke level Rp16.872 per dolar AS.
6. Industri Transportasi dan Logistik Paling Terpukul
Maskapai penerbangan, perusahaan pelayaran, hingga sektor logistik akan menghadapi lonjakan biaya bahan bakar. Margin keuntungan bisa tergerus jika harga tiket dan ongkos kirim tidak segera disesuaikan.Ini berpotensi memperlambat aktivitas perdagangan global.
(akr)
Lihat Juga :