Lonjakan Inflasi Mengancam Ekonomi RI, THR Belum Cukup Dongkrak Daya Beli

Senin, 09 Maret 2026 - 17:37 WIB
Ia juga menyoroti perkembangan sejumlah indikator makroekonomi hingga Februari 2026. Inflasi tercatat berada di kisaran 4,76%, sementara nilai tukar rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS. Di sisi lain, tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) berada di kisaran 6,39% dan harga minyak dunia melambung tinggi.

Menurut Abdul, kenaikan harga minyak dunia bukan kabar baik bagi Indonesia yang saat ini merupakan negara pengimpor minyak. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Kalau situasi seperti ini, ini akan berat bagi kita karena di APBN Februari sudah Rp135 triliun. Ini angka yang sangat tinggi, yang sangat membebani ekonomi selama 2026," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menilai konflik global juga berdampak pada pelemahan rupiah yang berpotensi meningkatkan inflasi impor. Di sisi lain, inflasi dalam negeri sebenarnya sudah mulai meningkat bahkan sebelum konflik tersebut terjadi, terutama dari kenaikan harga bahan makanan.

Dengan kondisi tersebut, Abdul menilai tambahan likuiditas dari THR hanya akan menahan penurunan daya beli agar tidak semakin tajam di tengah tekanan inflasi yang meningkat.

"Kita lihat apakah THR ini berkontribusi terhadap peningkatan daya beli di tengah inflasi yang meningkat. Saya pikir tidak seperti itu karena bisa jadi THR ini hanya berguna untuk melindungi agar daya beli tidak signifikan turun ketika kenaikan inflasi cukup besar," ujarnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!