Harga Plastik Naik, Industri Didorong Bangun Ketahanan di Tengah Tekanan Global

Selasa, 07 April 2026 - 21:39 WIB
Situasi ini mendorong pelaku usaha untuk mulai melihat ketergantungan terhadap plastik baru sebagai faktor risiko yang perlu dikelola secara lebih strategis, tidak hanya dari sisi biaya, tetapi juga keberlanjutan pasokan.

Seiring dengan itu pendekatan dalam penggunaan kemasan pun mulai bergeser. Model berbasis produksi baru (single-use) dinilai semakin rentan terhadap dinamika global, sehingga mendorong kebutuhan akan sistem yang lebih efisien dan adaptif, seperti penggunaan ulang (reuse) dan isi ulang (refill).

Perubahan pendekatan ini mulai terlihat di berbagai sektor, termasuk industri air minum. Air Minum Biru, penyedia layanan air minum isi ulang, merupakan salah satu pelaku usaha yang telah lebih dahulu mengembangkan sistem distribusi berbasis isi ulang dengan galon milik pelanggan, sebagai bagian dari model operasionalnya, sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada produksi plastik baru.

Baca Juga: Digempur Produk Impor, Industri Bahan Baku Plastik Perlu Dilindungi

“Dalam kondisi seperti sekarang, ketahanan sistem menjadi semakin penting. Kami sejak awal membangun model bisnis yang meminimalkan ketergantungan pada plastik baru, sehingga lebih adaptif terhadap perubahan di rantai pasok,” ujar Direktur PT Biru Semesta Abadi (Air Minum Biru), Yantje Wongso.

Menurutnya pendekatan tersebut tidak hanya memberikan dampak dari sisi lingkungan, tetapi juga menciptakan sistem yang lebih stabil dalam menghadapi fluktuasi ketersediaan bahan baku plastik.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!