IHSG Berbalik Arah Rebound 6,14%, Cek Penopang dan Proyeksinya Pekan Ini

Senin, 13 April 2026 - 08:59 WIB
Meskipun demikian, imbuh Hari, partisipasi investor asing masih cenderung berhati-hati, tercermin dari aliran dana keluar (net sell) sebesar Rp3,3 triliun di pasar reguler sepanjang periode tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa penguatan IHSG lebih ditopang oleh aliran dana domestik serta rotasi pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Dari sisi pergerakan sektoral, penguatan indeks secara dominan dikontribusikan oleh rally signifikan pada saham-saham big caps seperti BREN, DSSA, dan TPIA, yang memberikan efek pengganda terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan. Kenaikan pada saham-saham ini turut mendorong peningkatan risk appetite investor domestik dan memicu penguatan lanjutan pada saham-saham lainnya.

"Secara keseluruhan, pergerakan IHSG dalam sepekan terakhir mencerminkan pergeseran sentimen pasar menuju risk-on, meskipun masih dibayangi oleh kehati-hatian investor asing. Ke depan, keberlanjutan tren ini akan sangat bergantung pada stabilitas geopolitik global serta konsistensi aliran dana domestik dalam menopang pasar," terang Hari.

Sentimen Global dan Domestik Pekan Ini

Berbicara tentang potensi pergerakan market pada sepekan ke depan (13-17 April 2026), Hari mengimbau para trader dan investor mencermati sejumlah sentimen dari global dan domestik. Dari global, menjelang sepekan perdagangan, pergerakan indeks utama Wall Street seperti S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite diperkirakan kembali menghadapi tekanan seiring kegagalan negosiasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menghasilkan kesepakatan konkret.

Baca Juga: Daftar 10 Saham Paling Cuan hingga Boncos di Tengah Lonjakan IHSG Sepekan 6,14%



"Kondisi ini memperpanjang ketidakpastian geopolitik global dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat berdampak langsung pada stabilitas pasar energi. Sentimen negatif terutama berasal dari risiko berlanjutnya gangguan distribusi energi global, mengingat kawasan Timur Tengah, khususnya jalur strategis Selat Hormuz, masih menjadi titik krusial dalam rantai pasok minyak dunia," bebernya.

Tanpa adanya kesepakatan, pasar mulai mengantisipasi kemungkinan pengetatan suplai yang dapat mendorong harga energi tetap tinggi, sehingga berpotensi menahan laju penurunan inflasi global dan mempersempit ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!