QRIS Tembus Global, Industri Pembayaran Digital Masuk Fase Integrasi dan Kolaborasi
Jum'at, 17 April 2026 - 16:51 WIB
Perkembangan pembayaran digital dinilai telah memasuki fase lebih matang. Jika sebelumnya fokus pada akses dan kemudahan, kini bergeser ke integrasi layanan dan penguatan kualitas ekosistem. Foto/Dok
JAKARTA - Transformasi sistem pembayaran digital di Indonesia kian menunjukkan arah baru. Tidak lagi sekadar berfokus pada kemudahan transaksi, industri kini bergerak menuju penguatan ekosistem yang terintegrasi, kolaboratif, dan berdaya tahan tinggi.
Hal ini menjadi penting apalagi saat adanya ekspansi QRIS lintas negara dan lonjakan adopsi domestik, regulator dan pelaku industri sepakat bahwa kunci pertumbuhan berikutnya terletak pada sinergi, pengelolaan risiko, serta kesiapan infrastruktur yang matang.
Wakil Ketua Umum II Asosiasi Fintech Indonesia, Budi Gandasoebrata menilai perkembangan pembayaran digital telah memasuki fase yang lebih matang. Jika sebelumnya fokus pada akses dan kemudahan, kini industri mulai bergeser ke integrasi layanan dan penguatan kualitas ekosistem.
“Pembayaran digital tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi enabler utama bagi berbagai layanan lain, termasuk pembiayaan dan asuransi digital,” ujar Budi saat acara Fintech Talk Finpay di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: Bangun Ekosistem Digital, Finpay Dorong Lingkungan Kerja Sehat dan Inklusif
Hadir dalam acara tersebut Direktur Teknologi, Produk dan Operasi, Apep MK Noormansyah, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ryan Rizaldy, Wakil Ketua Umum II Asosiasi Fintech Indonesia, Budi Gandasoebrata, Business & Marketing Director FinPay, Aziz Sidqi, Board Advisor Qoala, Muhammad Iqbal, Direktur Utama Samir, Yonathan Gautama, Direktur Indodana Finance, Iwan Dewanto.
Budi menambahkan, kebutuhan pelaku industri saat ini tidak hanya pada solusi yang cepat dan seamless, tetapi juga yang andal, aman, serta mampu mendukung kolaborasi lintas sektor.
Ia juga menyoroti langkah Bank Indonesia (BI) yang memperluas implementasi QRIS lintas negara, termasuk kerja sama terbaru dengan Korea Selatan. Menurutnya, ekspansi ini mencerminkan komitmen regulator dalam memperkuat interoperabilitas sistem pembayaran sekaligus mendorong adopsi digital di tingkat regional.
“Ke depan, masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri seperti Korea Selatan dapat melakukan pembayaran menggunakan QRIS. Ini bukti bahwa sistem kita semakin terhubung secara global,” jelasnya.
Dari sisi industri, Business & Marketing Director FinPay, Aziz Sidqi melihat lonjakan adopsi QRIS sebagai fenomena yang mencerminkan perubahan perilaku masyarakat, khususnya generasi muda. Ia menyebut, pengguna QRIS telah menembus puluhan juta dan didominasi oleh generasi milenial serta Gen Z.
“Pembayaran digital sekarang bukan hanya alat transaksi, tapi sudah menjadi bagian dari digital lifestyle. Ke depan, QRIS berpotensi menjadi default payment, bukan sekadar alternatif,” ungkap Aziz.
Hal ini menjadi penting apalagi saat adanya ekspansi QRIS lintas negara dan lonjakan adopsi domestik, regulator dan pelaku industri sepakat bahwa kunci pertumbuhan berikutnya terletak pada sinergi, pengelolaan risiko, serta kesiapan infrastruktur yang matang.
Wakil Ketua Umum II Asosiasi Fintech Indonesia, Budi Gandasoebrata menilai perkembangan pembayaran digital telah memasuki fase yang lebih matang. Jika sebelumnya fokus pada akses dan kemudahan, kini industri mulai bergeser ke integrasi layanan dan penguatan kualitas ekosistem.
“Pembayaran digital tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi enabler utama bagi berbagai layanan lain, termasuk pembiayaan dan asuransi digital,” ujar Budi saat acara Fintech Talk Finpay di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: Bangun Ekosistem Digital, Finpay Dorong Lingkungan Kerja Sehat dan Inklusif
Hadir dalam acara tersebut Direktur Teknologi, Produk dan Operasi, Apep MK Noormansyah, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ryan Rizaldy, Wakil Ketua Umum II Asosiasi Fintech Indonesia, Budi Gandasoebrata, Business & Marketing Director FinPay, Aziz Sidqi, Board Advisor Qoala, Muhammad Iqbal, Direktur Utama Samir, Yonathan Gautama, Direktur Indodana Finance, Iwan Dewanto.
Budi menambahkan, kebutuhan pelaku industri saat ini tidak hanya pada solusi yang cepat dan seamless, tetapi juga yang andal, aman, serta mampu mendukung kolaborasi lintas sektor.
Ia juga menyoroti langkah Bank Indonesia (BI) yang memperluas implementasi QRIS lintas negara, termasuk kerja sama terbaru dengan Korea Selatan. Menurutnya, ekspansi ini mencerminkan komitmen regulator dalam memperkuat interoperabilitas sistem pembayaran sekaligus mendorong adopsi digital di tingkat regional.
“Ke depan, masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri seperti Korea Selatan dapat melakukan pembayaran menggunakan QRIS. Ini bukti bahwa sistem kita semakin terhubung secara global,” jelasnya.
Dari sisi industri, Business & Marketing Director FinPay, Aziz Sidqi melihat lonjakan adopsi QRIS sebagai fenomena yang mencerminkan perubahan perilaku masyarakat, khususnya generasi muda. Ia menyebut, pengguna QRIS telah menembus puluhan juta dan didominasi oleh generasi milenial serta Gen Z.
“Pembayaran digital sekarang bukan hanya alat transaksi, tapi sudah menjadi bagian dari digital lifestyle. Ke depan, QRIS berpotensi menjadi default payment, bukan sekadar alternatif,” ungkap Aziz.
Lihat Juga :