QRIS Tembus Global, Industri Pembayaran Digital Masuk Fase Integrasi dan Kolaborasi
Jum'at, 17 April 2026 - 16:51 WIB
Ia menambahkan, pentingnya kolaborasi antara regulator, asosiasi, dan pelaku industri menjadi fondasi dalam membangun sistem keuangan yang kuat. FinPay sendiri mengklaim telah mengelola transaksi bernilai triliunan rupiah dengan volume miliaran transaksi sebagai bagian dari kontribusi terhadap ekosistem.
Sementara itu, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ryan Rizaldy memaparkan arah reformasi struktural yang tengah dijalankan regulator. Salah satu fokus utama adalah penataan akses kepesertaan melalui klasifikasi Penyelenggara Sistem Pembayaran (PSP) menjadi PSP Utama dan Non-Utama.
“PSP Utama akan memiliki akses yang lebih luas terhadap infrastruktur sistem pembayaran, karena skala dan tingkat interkoneksinya yang tinggi,” jelas Ryan.
Baca Juga: Menjaga Nadi Sistem Pembayaran Digital Indonesia
Selain itu, Bank Indonesia juga mendorong konsolidasi infrastruktur industri serta integrasi dengan sistem seperti BI-FAST untuk meningkatkan efisiensi dan daya tahan. Penguatan regulasi juga mencakup pendekatan berbasis risiko serta pengaturan terhadap penyedia teknologi pihak ketiga guna memastikan stabilitas ekosistem.
Dari sisi operasional, Director Technology Product & Operation FinPay, Apep MK Noormansyah menekankan, pentingnya kesiapan teknologi dalam menghadapi lonjakan transaksi digital. Menurutnya, trafik transaksi meningkat signifikan pada periode tertentu seperti Ramadan, libur nasional, hingga tanggal gajian.
“Sistem kami saat ini mampu menangani hingga sekitar 1.000 transaksi per detik dengan utilisasi masih di bawah 50%. Ini menunjukkan masih ada ruang untuk mengakomodasi lonjakan ke depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, penerapan konsep high availability menjadi krusial untuk menjaga stabilitas layanan, terutama di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap transaksi digital.
Di sisi lain, peran sistem pembayaran juga semakin terasa di sektor lain. Board Advisor Qoala, Muhammad Iqbal menilai pembayaran digital telah menjadi fondasi penting dalam pertumbuhan asuransi digital, khususnya produk mikro.
“Dulu tantangannya ada di pengumpulan premi. Sekarang, dengan sistem pembayaran digital yang lebih andal, distribusi dan monetisasi produk menjadi jauh lebih efektif,” kata Iqbal.
Hal serupa disampaikan Direktur Utama Samir, Yonathan Gautama. Ia menyebut, sistem pembayaran berperan sebagai 'payment engine' dalam mendukung fintech lending, terutama dalam mempercepat penyaluran dan pembayaran kembali pinjaman.
“Integrasi dengan sistem pembayaran memungkinkan kami mengembangkan credit scoring berbasis data transaksi serta meningkatkan manajemen risiko,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ryan Rizaldy memaparkan arah reformasi struktural yang tengah dijalankan regulator. Salah satu fokus utama adalah penataan akses kepesertaan melalui klasifikasi Penyelenggara Sistem Pembayaran (PSP) menjadi PSP Utama dan Non-Utama.
“PSP Utama akan memiliki akses yang lebih luas terhadap infrastruktur sistem pembayaran, karena skala dan tingkat interkoneksinya yang tinggi,” jelas Ryan.
Baca Juga: Menjaga Nadi Sistem Pembayaran Digital Indonesia
Selain itu, Bank Indonesia juga mendorong konsolidasi infrastruktur industri serta integrasi dengan sistem seperti BI-FAST untuk meningkatkan efisiensi dan daya tahan. Penguatan regulasi juga mencakup pendekatan berbasis risiko serta pengaturan terhadap penyedia teknologi pihak ketiga guna memastikan stabilitas ekosistem.
Dari sisi operasional, Director Technology Product & Operation FinPay, Apep MK Noormansyah menekankan, pentingnya kesiapan teknologi dalam menghadapi lonjakan transaksi digital. Menurutnya, trafik transaksi meningkat signifikan pada periode tertentu seperti Ramadan, libur nasional, hingga tanggal gajian.
“Sistem kami saat ini mampu menangani hingga sekitar 1.000 transaksi per detik dengan utilisasi masih di bawah 50%. Ini menunjukkan masih ada ruang untuk mengakomodasi lonjakan ke depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, penerapan konsep high availability menjadi krusial untuk menjaga stabilitas layanan, terutama di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap transaksi digital.
Di sisi lain, peran sistem pembayaran juga semakin terasa di sektor lain. Board Advisor Qoala, Muhammad Iqbal menilai pembayaran digital telah menjadi fondasi penting dalam pertumbuhan asuransi digital, khususnya produk mikro.
“Dulu tantangannya ada di pengumpulan premi. Sekarang, dengan sistem pembayaran digital yang lebih andal, distribusi dan monetisasi produk menjadi jauh lebih efektif,” kata Iqbal.
Hal serupa disampaikan Direktur Utama Samir, Yonathan Gautama. Ia menyebut, sistem pembayaran berperan sebagai 'payment engine' dalam mendukung fintech lending, terutama dalam mempercepat penyaluran dan pembayaran kembali pinjaman.
“Integrasi dengan sistem pembayaran memungkinkan kami mengembangkan credit scoring berbasis data transaksi serta meningkatkan manajemen risiko,” ujarnya.
Lihat Juga :