Ketahanan Energi Indonesia Terancam Krisis Pasokan, EBT Bisa Jadi Solusi Strategis

Jum'at, 24 April 2026 - 16:30 WIB
"Jarak tempuh dari Arab Saudi hanya 8-12 hari, sementara dari Amerika mencapai 45 hari. Padahal cadangan operasional kita hanya cukup untuk 25 hari. Stok di sini habis sebelum barang dari Amerika sampai," jelas Komaidi.

Komaidi menyoroti fakta bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara di kawasan yang tidak memiliki Strategic Petroleum Reserve (SPR) atau cadangan energi milik negara. Selama ini cadangan 25 hari yang sering disebut hanyalah stok operasional milik badan usaha seperti Pertamina, Shell, dan VIVO.

Baca Juga: Presiden Prabowo: Di Tengah Krisis Dunia, Kita Harus Hemat Energi



Dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Jepang, dan Korea Selatan yang memiliki cadangan strategis untuk tiga hingga enam bulan, Indonesia sangat rentan terhadap gangguan distribusi global.

Storage minyak Indonesia sebagian besar (54%) terkonsentrasi di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Lokasi utamanya berada di Plumpang (Jakarta), Balongan, Kalimantan, serta pusat produksi di Riau (Dumai) dan Cilacap. Infrastruktur ini dikelola Pertamina dan badan usaha lain untuk mendukung pasokan BBM nasional.

Lonjakan harga minyak mentah dunia dari asumsi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) sebesar USD70 per barel menjadi aktual USD90 per barel menciptakan lubang fiskal yang besar. Komaidi menghitung setiap kenaikan USD1 akan menambah defisit Rp6 hingga Rp7 triliun.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!